Kegagalan Amerika Latin

Satu di antara kelompok negara-negara yang terperangkap dalam Middle Income Trap itu adalah negara-negara Amerika Latin. Di antaranya adalah Brazil, Argentina dan Chili. Meski lebih dulu merdeka, pertumbuhan pendapatan per kapita negara-negara di kawasan itu berlangsung stagnan untuk kurun waktu yang lama. Ilustrasi di bawah menunjukkan betapa lambatnya pertumbuhan pendapatan per kapita mereka. Mengapa negara-negara Amerika Latin tidak berhasil keluar dari Middle-Income Trap?

Menurut Kharas dan Kohli (2011) itu terjadi karena negara-negara Amerika Latin masih menggunakan strategi yang sama sementara tantangan yang dihadapinya berbeda.[1] Pertumbuhan tinggi di negara-negara dengan pendapatan menengah bekerja dengan cara berbeda di banding pertumbuhan tinggi di negara-negara dengan pendapatan rendah. Perbedaan ini menghadirkan tantangan berbeda. Karenanya perlu pendekatan, kebijakan dan strategi yang juga berbeda.

Pengalaman gagal negara-negara Amerika Latin terjadi karena mereka Amerika Latin masih menggunakan strategi yang sama sementara tantangan yang dihadapinya berbeda.

-Kharas & Kohli (2011)

Pertumbuhan tinggi negara-negara dengan pendapatan rendah umumnya bergantung pada kelangsungan daya saing upah buruh rendah. Itulah sebab pertumbuhan tinggi jenis ini biasanya hadir bersama tingkat urbanisasi yang juga tinggi. Tenaga kerja dari desa-desa umumnya berharga lebih murah sehingga mempertahankan ongkos produksi agar tetap murah. Upah buruh rendah dan ongkos produksi rendah itu menarik arus modal asing masuk, membukakan lapangan kerja di kota-kota terpilih, dan pada akhirnya menarik lebih banyak lagi urbanisasi atau perpindahan tenaga kerja di atas.

Apabila sebagian besar dari tenaga kerja yang mengalami urbanisasi itu perempuan, dampak ikutannya bagi pertumbuhan ekonomi dapat lebih luas lagi. Ini karena kepergian mereka ke kota biasanya diikuti dengan mundurnya usia pernikahan, turunnya angka kelahiran, tabungan keluarga yang lebih meningkat dan keterlibatan mereka yang lebih erat dalam memanfaatkan peluang-peluang ekonomi. Kombinasi dari perubahan-perubahan ini secara kolektif berkontribusi dalam mempertahankan pertumbuhan tinggi, meningkatkan pendapatan per kapita nasional secara agregat dan membawa mereka dalam kelompok negara-negara berpendapatan menengah.

Perkapita Negara Amerika Latin dan Asia Timur
(Glawe & Wagner, 2016)

Ini berarti bahwa pertumbuhan tinggi di negara-negara berpendapatan rendah sebagian besar merupakan hasil dari proses diversifikasi ketimbang intensifikasi faktor produksi. Bukan berarti tidak ada intensifikasi faktor produksi. Proses-proses intensifikasi faktor produksi, kalau pun ada, umumnya tidak mendapatkan periode ideal pematangan yang diperlukan. Seiring masuknya modal asing, misalnya, kebutuhan tenaga kerja meningkat pesat sementara pada saat yang sama sistem pendidikan dan sumber daya manusia yang ada tidak cukup siap meresponnya.

Selama pertumbuhan ekonomi masih banyak digerakkan oleh sektor-sektor ekstraktif dan didominasi industri yang lebih memburu rendahnya upah tenaga kerja ketimbang tingginya kecakapan dan kreativitas mereka, struktur pertumbuhan yang seperti ini tidak terlalu menjadi soal. Akan tetapi, lain ceritanya manakala pendapatan nasional naik, upah buruh meningkat dan sektor-sektor penggerak pertumbuhan mengalami pergeseran. Menariknya, negara-negara Amerika Latin dan juga negara-negara lain yang naik status dan masuk dalam kelompok negara dengan pendapatan menengah adalah negara yang secara umum menghadapi dilema peningkatan upah dan perubahan struktur pertumbuhan yang dimaksud itu.

Tidak seperti pertumbuhan ekonomi negara dengan pendapatan rendah, pertumbuhan ekonomi negara dengan pendapatan menengah tidak lagi dapat bergantung pada daya tarik upah buruh rendah.

-EIP Lecture

Tidak seperti pertumbuhan ekonomi negara dengan pendapatan rendah, pertumbuhan ekonomi negara dengan pendapatan menengah tidak lagi dapat bergantung pada daya tarik upah buruh rendah. Peningkatan pendapatan nasional telah menyebabkan peningkatan relatif dalam tingkat upah tenaga kerja dan mengakibatkan merosotnya daya saing mereka dalam menarik investasi asing. Sebagai gantinya, pertumbuhan lebih banyak bergantung pada sektor-sektor yang lebih padat modal dan membutuhkan kecakapan lebih tenaga kerja. Pertumbuhan peran-peran sektor jasa yang meningkat merupakan bagian dari pergeseran itu.

Di tengah upah yang melonjak dan daya saing yang merosot, pertumbuhan ekspor tidak lagi bergantung pada daya tarik rendahnya upah melainkan bergantung pada kemampuan dalam mengetengahkan proses dan pasar baru. Sektor jasa merupakan satu di antara sektor yang kaya proses dan pasar baru itu. Eksplorasi dan proses baru mengembangkan skala ekonomi di luar kapasitas tradisional selama ini. Hanya saja, tidak seperti sektor agrikultur atau bahkan juga manufaktur, sektor jasa sangat sensitif terhadap kemajuan teknologi dan sangat mudah dipengaruhi dinamika perkembangan pola konsumsi.

Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan sensitivitas sektor ini berisiko menghadirkan stagnasi. Ketidakmampuan negara-negara Amerika Latin dalam keluar dari perangkap pendapatan menengah secara umum berhubungan erar dengan ketidakmampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan tantangan baru menyusul kenaikan status mereka sebagai negara dengan pendapatan ekonomi menengah pada umumnya. [JOSS]


  • [1] Indermit Gill dan Homi Kharas, An East Renaissance: Ideas for Economic Growth, Washington D.C: the World Bank, 2007.

For Quotation: Joko Susanto, “Kegagalan Amerika Latin”, Focus: Middle Income Trap, EmergingIndonesia.com, 9 July, 2021

Image: the whither of Latin American Spring? by LeftVoice.org

Written by
Joko Susanto

Executive Director of Emerging Indonesia Project/EIP. Managing Editor of EmergingIndonesia.com. Email: j.susanto@emergingindonesia.com

View all articles
Written by Joko Susanto

Kontak

Ikuti Kami

Dapatkan update berita, ulasan dan kegiatan kami dengan cara follow akun sosial media kami berikut ini.