Wacana

Emerging Indonesia Project/EIP adalah prakarsa non-governmental yang bekerja bagi penajaman pemahaman dan pengembangan kebijakan terkait peluang dan tantangan Indonesia dalam transformasi negara-berkembang (developing-country) ke negara-udaya (emerging-country). Situasi transformatif adalah kondisi yang membutuhkan pemahaman dan respon tepat kebijakan. Untuk itu, perlu upaya sistematik penajaman, pemahaman, dan pengembangan kebijakan terkait isu-isu atau tema-tema stratejiknya. Terkait kebutuhannya, ada tujuh tema yang perlu mendapat perhatian. Tujuh tema itu adalah ascending complexities, emerging structures, emancipative vision, economic scaling-up, social-upgrading, capacity boosting dan assimilative take-off.

Ascending Complexities adalah kompleksitas persoalan yang mengemuka dan melingkungi transformasi negara berkembang ke negara udaya. Transformasi negara-berkembang ke negara-udaya adalah proses besar yang memuat kompleksitas baru. Tidak semata berpusat negara, kompleksitas itu bersifat non-state driven, transnasional dan bahkan planetary. Termasuk dalam kompleksitas itu adalah masalah iklim, kesenjangan ekonomi, kelangkaan pangan/energi, gegar informasi, populisme, radikalisme-ekstrimisme dan pandemi.

Emerging Structures adalah ‘struktur-struktur’ baru yang mengemuka dan menjadi kerangka stratejik transformasi negara berkembang ke negara udaya. Tidak hanya menghadapi kompleksitas non-tradisional, transformasi dewasa ini juga melibatkan dinamika lingkungan stratejik yang hidup. Termasuk di antaranya adalah kebangkitan Tiongkok; respon Barat/Amerika Serikat, respon ASEAN dan aktor kawasan; masa depan Indo-Pasifik, Asia-Pasifik dan Asia; dinamika BRICS/MIKTA; reformasi global dan peranan G20, serta pergeseran kekuatan global umumnya.

Emancipative Responses adalah respon-respon emansipatif negara yang muncul sebagai jawaban situasi transformatif yang melingkunginya. Situasi transformatif adalah stimulus bagi tumbuhkembang gagasan-gagasan emansipatif kebangkitan dan kemajuan bangsa. Karenanya, sebelum mendalami hakekat visi kebangkitan/ kemajuan Indonesia, sejarah jatuh-bangun bangsa-bangsa besar di dunia perlu dikaji, reformasi-reformasi besarnya perlu dipelajari, begitu juga visi kebangkitan yang memandunya dan kegagalan/kesuksesan yang mengiringinya.

Economic Scaling-Up adalah upaya kembang-rentang perekonomian negara demi mengoptimalkan kapabilitas lompatnya. Visi kebangkitan tidak akan bekerja tanpa pengembangan kapabilitas lompat. Kapabilitas itu pertama-tama perlu hadir secara ekonomi, melalui keberhasilannya mempertahankan pertumbuhan tinggi. Untuk itu, perlu upaya sistematik kembangrentang ekonomi. Termasuk di dalamnya adalah upaya keluar dari perangkap pendapatan menengah, optimalisasi bonus demografi, antisipasi disrupsi teknologi, pengembangan kreativitas dan inovasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, pembangunan infrastruktur/konektivitas, serta akselerasi pemberdayaan ekonomi.

Social Upgrading adalah upaya unggahdaya sosial yang memungkinkan negara mengembangkan kualitas kehidupan sosial masyarakatnya dan menanggulangi ekses-ekses sosial yang muncul dalam transformasinya dari negara berkembang ke negara udaya. Pertumbuhan tanpa kemajuan sosial adalah bom waktu berbahaya. Ia berpeluang memperlebar kesenjangan, merongrong kelangsungan tatanan sosial dan merusak kelestarian lingkungan. Karenanya, kembangrentang perekonomian membutuhkan imbangan sepadan secara sosial. Termasuk dalam imbangan itu adalah pengarusutamaan demokrasi ekonomi, penguatan jaminan sosial, reformasi pendidikan dan rekabangun sosial, pemajuan kebudayaan dan revolusi mental, pemberdayaan perempuan dan keluarga, pemberdayaan masyarakat adat dan desa, serta revitalisasi ekologi berkelanjutan pada umumnya.

Capacity Boosting adalah upaya akselerasi kapasitas negara dalam menjaga keseimbangan, memastikan orkestrasi sumber daya dan mengembangkan tata-kelola stratejik yang efektif bagi pencapaian tujuan nasionalnya. Berperan penting dalam menjaga keseimbangan kembangrentang ekonomi dan unggahdaya sosial adalah peran stratejik pemerintahan. Untuk itu, perlu akselerasi kapasitas pemerintahan yang sepadan. Termasuk akselerasi itu adalah upaya stabilisasi politik dan keamanan, konsolidasi demokrasi, orkestrasi nasional, transformasi hukum, reformasi birokrasi, pelembagaan akuntabilitas, serta upaya stratejikasi tatakelola.

Assimilative Take-Off adalah strategi pasang yang memungkinkan negara udaya terintegrasi elegan dalam konstelasi geopolitik, dinamika kawasan dan hubungan internasional yang melingkunginya. Transformasi negara berkembang ke negara udaya membutuhkan strategi pasang yang baik. Ia adalah strategi elevasi yang mengupayakan reposisi stratejik dengan tetap menjaga keselarasan lingkungan stratejik. Selain membutuhkan penyesuaian terkait cara pandang diri, lingkungan dan cara membawa diri dalam lingkungan; ia memerlukan pendekatan lepas-landas yang asimilatif. Untuk itu, perlu ada perhatian terhadap upaya redefinisi wawasan, reaktualisasi kapasitas, peningkatan kehadiran, eksplorasi pengaruh, produksi ruang, emansipasi peran dan pengembangan kepemimpinan kawasan.


Image: Polapans, 1973. By Kenneth Josephson.


Kontak

Ikuti Kami

Dapatkan update berita, ulasan dan kegiatan kami dengan cara follow akun sosial media kami berikut ini.