SWF India sebagai Model

National Infrastructure Investment Fund (NIIF) adalah sovereign wealth fund (SWF) bentukan Pemerintah India. Dalam paparan awal otoritas terkait, NIIF sempat disebut sebagai salah satu rujukan SWF Indonesia. Seperti apa dan bagaimana desain NIIF? Konklusi dan pelajaran apa yang dapat dipetik Indonesia dalam kaitannya?

Dalam pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, 25 Januari 2021, Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati memaparkan tidak saja rencana pemerintah Indonesia dalam membangun sovereign wealth fund (SWF) tetapi juga beberapa model sebagai acuannya (Akbar 2021). Meski pemerintah telah beberapa kali memaparkan desain SWF sebelumnya, namun baru dalam pertemuan ini disebut secara jelas acuannya. Di antaranya adalah National Infrastructure Investment Fund (NIIF)—institusi pengelola dana berdaulat pemerintah India. Apa dan bagaimana sesungguhnya desain NIIF? Konklusi dan pelajaran apa yang dapat dipetik Indonesia dalam kaitannya?

NIIF merupakan salah satu SWF yang tergolong baru dibanding institusi-institusi serupa di negara lain, didirikan pada tahun 2015 (GIHub 2019, 75). Pada September 2020, NIIF mengelola dana USD 4.4 milyar (NIIF 2020, 1). Meski terlihat cukup besar dalam nominalnya, tetapi terlihat cukup kecil jika dibandingkan dengan PDB India yang mencapai USD 2,869 trilyun, atau kurang dari satu persen PDB India (Bank Dunia 2021). Rasio ini cukup rendah, terutama bila disandingkan dengan status India sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru. Namun, kemunculan India sebagai model percontohan bagi Indonesia utamanya didasarkan pada tujuan pembangunan dan mekanisme tatakelolanya. Hal ini didasarkan oleh problematika pembangunan domestik yang serupa di antara kedua negara.

Tabel 1. Perkembangan Pembangunan Infrastruktur India, 1991-2005

Sumber: PrabirDe (2008, 34)

Problematika Domestik dan Perkembangan Ide NIIF

Problematika infrastruktur India merupakan dilema klasik antara pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam kasus kekuatan ekonomi baru. Kebangkitan ekonomi India yang mencapai titik baliknya pada sekitar dekade 1990-an merupakan kombinasi dari strategi industrialisasi dan konsolidasi fiskal pemerintahnya. Meskipun terlambat dibandingkan negara-negara newly industrialized countries Asia lain yang berjaya pada dekade 1970-an hingga 1980-an, India memiliki modal penduduk yang cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi India ditandai dengan meningkat pesatnya PDB India di periode ini. Namun, pertumbuhan ekonomi berbasis besar populasi ini menimbulkan efek samping terhadap pembangunan nasional dan perkembangan ekonomi domestik. Salah satunya dalam sektor infrastruktur. Infrastruktur tidak hanya berperan sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat dan perkembangan ekonomi India, namun juga sebagai fasilitas pendukung kegiatan ekonomi.

Bila dirangkum, problematika infrastruktur utama yang ada di India dapat digambarkan dalam tipologi ketidakmerataan—mungkin juga kesenjangan. Rajiv Lall (2013, 11-12) menggaris-bawahi bahwa terdapat empat elemen utama dalam politik infrastruktur India—pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, serta regulasi dan birokrasi. Sejak kebangkitan ekonomi India, sektor swasta mendominasi pembangunan infrastruktur di India. Hal ini menimbulkan dua masalah utama. Pertama, yaitu adanya akses infrastruktur dengan biaya yang tidak terjangkau oleh beberapa kalangan masyarakat dalam kelas ekonomi menengah kebawah. Kedua, yaitu ketidakmerataan pembangunan. Hal ini dikarenakan, bersamaan dengan titik balik lompatan ekonomi India, terjadi pergeseran demografi berupa gelombang urbanisasi masif (Ratti et al. 2020, 6-7). Pembangunan infrastruktur swasta yang bergerak berdasar profitabilitas, kemudian, terfokus pada area perkotaan semata—misal hanya di sekitar ibu kota New Delhi.

Dampak dari problematika ini adalah kemunculan stigma bagi proyek-proyek infrastruktur di kawasan non-urban sebagai tidak strategis dan berisiko. Hingga saat itu, mayoritas pendanaan bagi proyek-proyek ini berasal dari bank-bank, baik pemerintah maupun swasta. Hal ini terutama menjadi masalah ketika beberapa proyek infrastruktur memerlukan pembangunan jangka panjang. Stigma di atas membuat proyek-proyek ini kesusahan mendapat dana. Padahal, mayoritas dari mereka merupakan bagian dari rancangan pembangunan strategis pemerintah India. Maka kemudian, kemunculan NIIF ditujukan untuk menjadi instrumen ekonomi politik pemerintah India dalam mendukung proyek-proyek ini. Kemunculan ide pembangunan NIIF sebelum 2015 ditujukan sebagai sebuah lembaga pengelola dana investasi terhadap proyek-proyek infrastruktur domestik India. Atas dasar itulah, untuk mendapat kontrol penuh terhadap investasi ini, pada awalnya NIIF dirancang untuk menjadi sebuah badan negara, yang mana keseluruhan struktur kapitalnya berasal dari kas negara. Akan tetapi, rancangan ini menuai kontroversi dari beberapa pihak di ranah politik domestik. Maka kemudian, NIIF didesain sebagai sebuah “badan pengelola dana profesional” yang berafiliasi dengan pemerintah India.

Struktur Kapital dan Tata Kelola NIIF

Hingga saat ini, struktur kapital NIIF masih didominasi oleh pemerintah India, dengan persentase 49 persen dari total dana investasi yang ada (GIHub 2019, 75). Sisa dari struktur kapital NIIF terdiversifikasi terhadap investor swasta dari ranah domestik dan asing. Partisipasi sektor asing ini bisa berasal dari investor badan pemerintah, badan swasta, maupun kontribusi individu negara lain. Misalnya saja, Abu Dhabi Investment Authority menjadi investor asing terbesar di NIIF, dengan jumlah investasi mencapai USD 1 milyar (GIHub 2019, 77). SWF negara lain seperti Temasek Foundation dari Singapura juga tercatat memiliki dana di NIIF. Sayangnya, hingga saat ini, salah satu kritik besar NIIF adalah kejelasan terkait sumber dana dari investasi pemerintah India.

Salah satu model tata kelola dana yang menarik dari NIIF adalah adanya klasifikasi alokasi dana yang dimiliki dalam beberapa jenis. Langkah ini dapat dibaca sebagai sebuah upaya manajemen risiko yang ada. Terdapat tiga jenis alokasi dana yang dikelola NIIF (GIHub 2019, 75-76).

Pertama, the master fund. Dana ini merupakan alokasi utama NIIF, dan bergerak di berbagai proyek infrastruktur inti, penting, dan berurgensi tinggi. Dana ini dialokasikan dalam proyek-proyek vital seperti jalan, pelabuhan, bandara, dan energi. Dana ini menjadi dana paling penting dan strategis bagi NIIF, sebab ia ditujukan terhadap proyek-proyek yang dikelola perusahaan-perusahaan yang memiliki rekam jejak baik dan terpercaya.

Kedua, fund of funds. Dana ini diinvestasikan kepada pengelola-pengelola dana pihak ketiga yang kemudian menginvestasikannya kembali ke proyek-proyek infrastruktur sekunder. Proyek-proyek ini meliputi sektor infrastruktur hijau, perumahan biaya terjangkau, sektor jasa infrastruktur, dan berbagai infrastruktur pendukung lain.

Ketiga, strategic investment fund. Dana ini merupakan kebalikan dari the master fund, dan diberikan kepada proyek-proyek investasi yang masih dalam tingkat berkembang dan dikelola oleh perusahaan baru. Namun, dana ini memiliki nilai strategis tersendiri sebagai bentuk diversifikasi infrastruktur India.

Grafik 1. Struktur Kapital dan Alokasi Dana NIIF

Sumber: NIIF (dalam GIHub 2019)

Konklusi dan Pelajaran Penting bagi Indonesia

NIIF merupakan salah satu bentuk SWF yang didirikan dengan intensi yang khusus. Alih-alih menjadi sebuah alat peraih keuntungan finansial dan penambah kas bagi negara, ia berfungsi sebagai instrumen ekonomi politik yang berperan bagi strategi kebangkitan ekonomi India. NIIF secara jelas hadir sebagai upaya pemerintah India dalam mengisi kekosongan pendanaan sektor-sektor infrastruktur tanpa secara langsung membebani anggaran fiskal yang telah ada. Namun, tidak semata berperan sebagai instrumen developmentalisme negara dalam sektor infrastruktur, ia juga berfungsi sebagai alat mobilisasi dan corong utama dari investasi asing. Pemfokusan investasi asing serta alokasi dana yang jelas dan strategis ini memperkuat iklim investasi bagi India.

India dan Indonesia memiliki beberapa kondisi dan problematika ekonomi yang mirip. Sebagai kekuatan ekonomi baru, keduanya memiliki problematika ketidakmerataan infrastruktur. Baik pemerintah India dan Indonesia sadar bahwa sebagai negara yang menuju keudayaan, infrastruktur berperan penting dalam proses ekonomi. Pemerintah, kemudian, hadir sebagai agen yang membangun kepercayaan terhadap proyek-proyek infrastruktur. SWF bisa hadir dalam dua fungsi di atas dan mendukung proyek-proyek infrastruktur strategis yang tidak populer dalam skema investasi langsung. Namun, dengan adanya penjaminan pemerintah melalui pembentukan SWF yang bertata kelola profesional, maka SWF bisa menjadi formalisasi bagi kehausan investasi asing Indonesia yang prominen, terutama pada pemerintahan Presiden Joko Widodo. Terlebih, ia juga bisa menjadi formalisasi bagi diplomasi ekonomi dan investasi asing Indonesia yang tengah gencar diupayakan.


Referensi

  • Akbar, Caesar, 2021. “Jelaskan Beda SWF di Berbagai Negara, Sri Mulyani: Indonesia Mirip India”, Tempo Bisnis, 25 Januari [daring]. Tersedia dalam https://bisnis.tempo.co/read/1426478/jelaskan-beda-swf-di-berbagai-negara-sri-mulyani-indonesia-mirip-india (diakses pada 25 Mei 2021).
  • Bank Dunia, 2021. “India, World Development Indicators” [daring]. Tersedia dalam https://datatopics.worldbank.org/world-development-indicators/ (diakses pada 26 Mei 2021).
  • De, Prabir, 2008. “Infrastructure Development in India”, dalam N. Kumar (ed.), International Infrastructure Development in East Asia—Towards Balanced Regional Development and Integration. Chiba: IDE-JETRO.
  • Global Infrastructure Hub (GIHub), 2019. “Guidance Note on National Infrastructure Banks and Similar Financing Facilities”, Laporan Penelitian, Juni. Sydney: GIHub.
  • Lall, Rajiv, 2013. “India on the Move: Infrastructure for the 21st Century (Part I)”, dalam Persis Khambatta (ed.), The Emerging Indian Economy. Washington, DC: Center for Strategic and International Studies.
  • NIIF, 2020. “National Investment and Infrastructure Fund Limited (NIIFL) Announces Final Close of NIIF Master Fund at USD 2.34 billion”, Rilis Pers, 21 Desember. New Delhi: NIIF.
  • Rathi, Vivek et al., 2020. “India Urban Infrastructure Report 2020″, Laporan Penelitian. Mumbai: Knight Frank India. ●

Headline Image by India Filings. Https://www.indiafilings.com/learn/national-investment-and-infrastructure-fund-niif/

For Quotation: Demas Nauvarian, “SWF India sebagai Model”, Focus: Sovereign Wealth Fund, EmergingIndonesia.com, 22 January, 2022.

Written by
Demas Nauvarian

Research Executive of Emerging Indonesia Project/EIP. Partnership & Content Development Support/PCDS of EmergingIndonesia.com. Email: d.nauvarian@emergingindonesia.com

View all articles
Written by Demas Nauvarian

Kontak

Ikuti Kami

Dapatkan update berita, ulasan dan kegiatan kami dengan cara follow akun sosial media kami berikut ini.