Transformasi SWF Rusia dan Pelajaran Pentingnya

Selain ketertarikan pada model India, pembentukan SWF Indonesia nampaknya juga diwarnai ketertarikan serupa terhadap model Rusia. Yang menarik, perkembangan SWF Rusia dalam beberapa hal mengetengahkan pendekatan berbeda dari kebanyakan SWF yang berkembang sebelumnya. Penelusuran terhadap inti pendekatan khas atau perubahan mendasar yang diusung SWF Rusia mengemukakan tiga pelajaran berharga bagi pengembangan SWF Indonesia: Pertama, kejelasan target pembentukan. Kedua, kejelasan sumber dana. Ketiga, kejelasan mekanisme kontrol dan peran pemerintah di dalamnya.

Debat mengenai arah dari pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) telah berlangsung cukup lama. Dalam pernyataan terakhir Menteri Keuangan Sri Mulyani di hadapan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat, 25 Januari 2021, LPI akan memiliki bentuk dan arah yang serupa dengan sovereign wealth fund (SWF) milik India yang berfokus pada pembangunan infrastrukur serta sumber dana dari investasi asing (Thomas 2021). Namun, apabila dilacak lebih jauh, di tahun 2020 ketika ide mengenai SWF Indonesia dimunculkan, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa SWF Indonesia akan menarik dana swasta serta investasi asing dan bukan dari kelebihan simpanan negara, serupa dengan pola yang digunakan Russia Direct Investment Fund (Rahman 2020).

Hal yang sama disampaikan juga oleh Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata, ketika menekankan bahwa LPI ditujukan untuk mengumpulkan dana dari dalam dan luar negeri demi meningkatkan investasi (Thomas 2020). Baru-baru ini, pengamat BUMN dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto, juga membenarkan bahwa LPI mirip dengan model Rusia (Ramadhansari 2021).

Apa sebetulnya “model SWF Rusia”? Apa karakteristik utamanya? Dan apa pelajaran yang bisa diambil oleh Indonesia dari model Rusia tersebut?

Dari Stabilisasi Ke Pertumbuhan Ekonomi

SWF di Rusia bisa dilacak keberadaannya sejak tahun 2003-2004, ketika Stabilization Fund didirikan. Tujuan awal dari pendirian Dana Stabilisasi ini adalah, sesuai dengan namanya, menjaga stabilitas ekonomi Rusia dari inflasi akibat masuknya mata uang asing hasil penjualan minyak dan gas (Globa 2021). Berbeda dengan banyak model SWF lainnya, seperti di Norwegia, yang ditujukan untuk transfer kekayaan kepada generasi selanjutnya, Dana Stabilisasi di Rusia justru ditujukan untuk sterilisasi petrodollar serta antisipasi jatuhnya harga minyak (Chevrier 2009). Selain itu, Dana Stabilisasi ini juga dikelola dengan prinsip konservatif dan hati-hati dengan tidak menginvestasikannya pada aset-aset di luar negeri (Fortesque 2010). Seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi Rusia, pemerintah kemudian menggeser fokusnya dari stabilisasi ekonomi menjadi pendorong pertumbuhan. Untuk itulah, pada tahun 2008, pemerintah Rusia memecah institusi SWF menjadi dua: Dana Cadangan (Reserve Fund, kelanjutan dari Dana Stabilisasi) dan Dana Kesejahteraan Nasional (National Wealth Fund/NWF). NWF diposisikan untuk menjadi motor pencarian dana untuk menutup defisit anggaran, menambal dana pensiun, serta membayar utang luar negeri (Fortesque 2010; Globa 2021). Sebagai negara pengekspor produk hidrokarbon, sumber dana SF dan NWF berasal dari kelebihan hasil penjualan minyak dan gas.

Dari sejarah singkat tersebut, model Rusia yang lama (berbasis stabilisasi dan dana penjualan produk hidrokarbon) tentu bukan yang dimaksud oleh para pengambil kebijakan di Indonesia. Para pejabat di Kementerian BUMN serta di Kementerian Keuangan secara spesifik menunjuk Russia Direct Investment Fund (RDIF) sebagai contoh utama. RDIF, yang baru saja dibentuk pada tahun 2011, adalah sebuah kelanjutan dari model baru SWF Rusia yang menekankan pada pola “SWF-in reverse” (U-Wen 2017).

Berbeda dengan SWF lainnya yang difokuskan untuk meningkatkan kekayaan negara (dari kelebihan pendapatan) dengan cara berinvestasi di luar negeri, RDIF justru ditujukan menarik modal asing untuk berinvestasi di Rusia, dengan resiko rendah karena adanya kemitraan dengan institusi negara (Russia Direct Investment Fund t.t.a). Dari laman RDIF, selama 9 tahun keberadaannya, RDIF telah berhasil mengumpulkan dana USD 40 miliar. Dari keseluruhan dana dari kemitraan dengan banyak negara tersebut, 90 persen dialokasikan untuk investasi dalam kegiatan ekonomi di Rusia (setara dengan 2 triliun rubel), 60 persen investasi di bidang teknologi, dengan portfolio RDIF setara dengan 6 persen gross domestic product (GDP) Rusia.

Tiga Karakteristik Khas

Apa lantas yang khas dari karakteristik RDIF yang bisa diambil atau dijadikan pelajaran bagi Indonesia? Yang pertama adalah aspek sumber pendanaan. Berbeda dengan SWF di negara maju lainnya (atau di negara dengan produk alam), dan bahkan berbeda dengan skema awal SWF di Rusia, RDIF mendapatkan dananya dari investasi asing maupun dari kemitraan dengan negara lain. Dari laman resmi RDIF, tercatat ada 18 negara yang berinvestasi maupun bermitra dengan RDIF (Russia Direct Investment Fund t.t.c). Misalnya, kerjasama RDIF dengan China Investment Corporation menghasilkan dana USD 2 miliar dalam kerangka Russia-China Investment Fund, yang mayoritas (70 persen) akan digunakan berinvestasi di Rusia. Dalam kerjasamanya dengan Mubadala Development Company dari Abu Dhabi, RDIF berhasil menghimpun dana USD 2 miliar untuk sektor industri serta USD 5 miliar untuk infrastruktur. Dari 18 negara mitra, mayoritas berada di kawasan Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Abu Dhabi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Negara mitra lainnya yang juga berkontribusi misalnya Tiongkok, India, Turki, Jepang, Korea Selatan, Italia, Prancis, Thailand, Vietnam, Armenia, Serbia, serta Mongolia.

Aspek kedua yang menarik adalah fokus serta prioritas penggunaan dana tersebut. Dari laman resmi RDIF, ada 6 (enam) target utama investasi, yaitu peningkatan kualitas hidup masyarakat, pembangunan infrastruktur, investasi di industri dengan peluang ekspor maupun substitusi impor, pembangunan kawasan, peningkatan efisiensi ekonomi domestik, serta peningkatan kemampuan teknologi (Russia Direct Investment Fund t.t.b). Dalam laporannya di tahun 2018 (Russia Direct Investment Fund 2018), RDIF menunjukkan bahwa proyek-proyek nasional unggulan yang dibiayai cenderung berfokus di bidang infrastruktur, seperti pembangunan jembatan kereta antara Rusia dan Tiongkok (yang sudah terhenti cukup lama dan baru dimulai lagi saat RDIF masuk), perbaikan jalan tol antara Moscow-St. Petersburg, pipa minyak, eksplorasi gas alam, dan pelabuhan. Di masa pandemi Covid-19, yang terlihat nyata adalah kontribusi RDIF pada pengembangan vaksin Sputnik V, baik melalui investasi langsung maupun kemitraan dengan negara seperti Tiongkok (Xinhua 2021). Selain vaksin, RDIF juga berinvestasi di bidang teknologi, seperti ketika RDIF menyediakan robot untuk melakukan tes Covid-19 (TASS 2021).

Aspek terakhir yang khas Rusia adalah keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan SWF. Dalam format sebelumnya, Presiden Rusia adalah pengatur utama mengenai pembagian uang hasil minyak dan gas, termasuk menentukan ke sektor mana investasi akan dilakukan (Gaddy & Ickes 2013). Hal tersebut memungkinkan praktik tidak transparan dan penyalahgunaan dana untuk kebutuhan politik. RDIF memang tidak berada di bawah Kementerian Keuangan sebagaimana Dana Stabilisasi, Dana Cadangan, ataupun NWF. Namun, RDIF justru bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan Perdana Menteri Rusia. Berdasarkan aturan yang dikeluarkan Pemerintah Rusia tanggal 2 Juni 2016 (President of Russia 2016), Chief Executive Officer (CEO) dan Dewan Pengawas (Supervisory Board) RDIF diangkat oleh Presiden berdasarkan rekomendasi dari Perdana Menteri. Bahkan, dalam Dewan Pengawas RDIF saat ini, terdapat orang dekat Presiden Vladimir Putin seperti Sergei Ivanov (mantan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Kepresidenan), maupun Menteri-Menteri mulai dari Menteri Pembangunan Ekonomi sampai Menteri Keuangan. Satu-satunya orang non-pemerintah dalam Dewan Pengawas hanyalah ekonom Prancis yang juga mantan Managing Director International Monetary Fund (IMF), Dominique Strauss-Kahn. Kuatnya kontrol pemerintah menjadi fitur utama yang tampak jelas dalam pengelolaan RDIF (Russia Direct Investment Fund t.t.d).

Pelajaran bagi Indonesia

Pelajaran utama yang bisa diambil Indonesia dari model SWF Rusia bisa dibagi ke dalam tiga (tiga) aspek. Pertama, pemerintah Indonesia harus memastikan apa sebetulnya target pendirian SWF: apakah ditujukan untuk melakukan stabilisasi keuangan atau sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Bila merujuk pada pernyataan-pernyataan pejabat pemerintah yang menginginkan SWF sebagai pengumpul dana untuk investasi di dalam negeri, maka sebetulnya terlihat pemerintah Indonesia menginginkan LPI/INA sebagai pendorong pertumbuhan.

Kedua, pemerintah perlu memastikan sumber dana utama yang hendak digunakan oleh SWF. Indonesia tentu berbeda dengan Rusia yang memiliki opsi untuk menggunakan surplus anggaran dari penjualan produk hidrokarbon. Investasi asing terutama dalam bentuk kemitraan dengan negara-negara lain menjadi opsi menarik, berkaca pada pengalaman RDIF.

Persoalan muncul dalam aspek ketiga, yaitu siapa yang sebetulnya mengontrol kekayaan SWF dan sejauh mana peran pemerintah, terutama terkait politisasi SWF. Prinsip transparansi untuk mencegah penggunaan SWF demi kepentingan politik rezim penguasa serta adanya Dewan Pengawas maupun Penasehat yang independen di luar pemerintah tentu diperlukan untuk menjaga profesionalitas.

Referensi

  • Chevrier, C., 2009. “Sovereign Wealth Funds in Russia.” Revue d’économie Financière, 9 (1): 73-81.
  • Fortescue, S., 2010. “Russia’s SWFs: Controlled by a Domestic Agenda.” dalam Xi Yi-chong & G. Bahgat (eds.), The Political Economy of Sovereign Wealth Funds. New York: Palgrave Macmillan.
  • Gaddy, C.G. & Ickes, B.W., 2013. “Russia’s Dependence on Resources.” dalam M. Alexeev & S. Weber (eds.), The Oxford Handbook of Russian Economy. Oxford: Oxford University Press.
  • Globa, S.B., 2021. “Russian Sovereign Wealth Fund.” dalam E.G. Pereira, R. Spencer, & J.W. Moses (eds.), Sovereign Wealth Funds, Local Content Policies and CSR: Developments in the Extractives Sector. Cham: Springer.
  • President of Russia, 2016. “Law on Russian Direct Investment Fund” [daring]. Tersedia dalam http://en.kremlin.ru/acts/news/52085 (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Rahman, R., 2020. “RI to follow Russian model to establish sovereign wealth fund”, The Jakarta Post, 11 Februari [daring]. Tersedia dalam https://www.thejakartapost.com/news/2020/02/11/ri-follow-russian-model-establish-sovereign-wealth-fund.html (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Ramadhansari, I.F., 2021. “Pengamat BUMN: SWF Indonesia Lebih Bergaya SWF Rusia”, Bisnis.com, 8 Maret [daring]. Tersedia dalam https://ekonomi.bisnis.com/read/20210308/9/1365149/pengamat-bumn-swf-indonesia-lebih-bergaya-swf-rusia (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Russia Direct Investment Fund, 2018. “Annual Report 2018: Investing in the Future” [daring]. Tersedia dalam https://www.ifswf.org/sites/default/files/annual-reports/RDIF%2031495%20Annual%20Review%202018%20English%20web.pdf (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Russia Direct Investment Fund, t.t. “Overview” [daring]. Tersedia dalam https://rdif.ru/Eng_About/ (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Russia Direct Investment Fund, t.t. “RDIF Investments” [daring]. Tersedia dalam https://rdif.ru/Eng_Portfolio/ (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Russia Direct Investment Fund, t.t. “RDIF Partnerships” [daring]. Tersedia dalam https://rdif.ru/Eng_Partnership/. (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Russia Direct Investment Fund, t.t. “Supervisory board” [daring]. Tersedia dalam https://rdif.ru/Eng_Nabsovet/ (diakses pada 24 Mei 2021).
  • TASS, 2021. “Russian Direct Investment Fund to Present Robot Conveyor for COVID Tests”, TASS, 2 April [daring]. Tersedia dalam https://tass.com/economy/1273501 (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Thomas, V.F., 2020. “Kemenkeu Sebut Lembaga Pengelola Investasi RI Bakal Mirip SWF Rusia”, Tirto.id, 3 Desember [daring]. Tersedia dalam https://tirto.id/f7FW (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Thomas, V.F., 2021. “Sri Mulyani Sebut Lembaga Pengelola Investasi RI Mirip NIIF India”, Tirto.id, 25 Januari [daring]. Tersedia dalam https://tirto.id/f9zR (diakses pada 24 Mei 2021).
  • U-Wen, L., 2017. “Russia’s SWF eyes more tie-ups with Singapore investors”, The Business Times Singapore, 20 November [daring]. Tersedia dalam https://www.businesstimes.com.sg/government-economy/russias-swf-eyes-more-tie-ups-with-singapore-investors (diakses pada 24 Mei 2021).
  • Xinhua, 2021. “Russia to Cooperate with China on Production of Sputnik V Vaccine”, 8 Mei [daring]. Tersedia dalam http://www.xinhuanet.com/english/2021-05/08/c_139931329.htm?fbclid=IwAR0N-FdhKl5mb-6SHtB9g1RbduRIL7wrVphroQNYSxg5Q2BEroZsxOMLa88 (diakses pada 24 Mei 2021). ●

Image: Presiden Rusia Vladimir Putin dan CEO Russian Direct Investment Fund/RDIF Kirrill Dmitriev dalam penandatanganan Kerjasama Investasi Rusia-Perancis, 28 Februari 2013. Foto orisinal bisa dilihat di Galeri RDIF. Https://rdif.ru/Eng_photogallery/page/15/

For Quotation: Radityo Dharmaputra, “Transformasi SWF Rusia dan Pelajaran Pentingnya”, Focus: Sovereign Wealth Fund, EmergingIndonesia.com, 23 January, 2022.

Written by
Radityo Dharmaputra
View all articles
Written by Radityo Dharmaputra

Kontak

Ikuti Kami

Dapatkan update berita, ulasan dan kegiatan kami dengan cara follow akun sosial media kami berikut ini.