Identity Rising atau Hegemonic Decline? George Floyd, Krisis Amerika Serikat dan Pelajaran Besarnya

“Meski penting untuk komparasi, meski perlu mengembangkan perhatian terkait beberapa perkembangan di luar spirit dasarnya terkait persoalan Papua dan yang lainnya, Indonesia pada dasarnya tidak sedang mengembangkan rasisme institusional yang sama dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Karenanya, alih-alih meniru begitu saja gerakan perlawanan Black Lives Matter/BLM atau yang serupa dengannya, mengembangkan gerakan kewargaan atau Citizen Lives Matters serta meningkatkan kesadaran terkait bahaya fakenews atau hoax rasial bagi kelangsungan perikehidupan kewargaan yang sehat dalam kaitannya merupakan pilihan yang lebih relevan bagi Indonesia.”

FEATURED TRANSCRIPT-EIP FORUM 1 JULI 2020


Narasumber: Daniel Dhakidae, Ph.D, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Jurnal Prisma; Peneliti Senior LP3ES, Jakarta. Suzie Sudarman, Direktur American Studies Centre, Universitas Indonesia. Chair/Mangkuwicara: Joko Susanto, Direktur Eksekutif Emerging Indonesia Project/EIP. Transkrip: Demas Nauvarian, Indah Hikmawati, M. Aryo Rasil Syarafi. Waktu: Rabu, 1 Juli 2020, 21.00-22.00 WIB. Venue: Aula Indonesia Udaya, ZOOM pintasan.site/EIPForum3. Livestream Youtube Kanal Emerging Indonesia Project. Kutipan/Sitasi: EIP Forum, “Identity Rising atau Hegemonic Decline? George Floyd, Krisis Amerika Serikat dan Pelajaran Besarnya, Featured Transcript No. 4, Vol. 1, 1 Juli 2020, sebagaimana terdokumentasikan dalam tautan seri podcast berikut ini: https://emergingindonesia.com/2020/07/1/featured-transcript-eip-forum-no-4-vol-1/

Krisis di Amerika Serikat

Joko Susanto: Selamat malam, salam Indonesia Udaya. Selamat datang di EIP Forum edisi keempat dengan tema “Identity Rising atau Hegemonic Decline? George Floyd, Krisis Amerika Serikat, dan Pelajaran Besarnya”.

EIP Forum adalah persembahan dari Emerging Indonesia Project, sebuah prakarsa yang bekerja bagi penajaman pemahaman serta kebijakan terkait transformasi Indonesia dari negara berkembang menuju negara emerging atau udaya.

Pada edisi keempat kali ini, kita masih akan membincang suatu dinamika lingkungan strategis kontemporer yang mungkin akan memberikan pengaruh pada kita, tidak hanya karena perkembangan ini melibatkan dinamika politik di negara adidaya, tetapi juga karena dalam persoalannya, terdapat beberapa kemungkinan kesejajaran dan keunikan persoalan yang kemungkinan besar akan menyediakan banyak pelajaran bagi kita sebagai sebagai bangsa.

Saudara-saudara sekalian, hari ini kita akan berbicara tentang dinamika kontemporer terkait gejolak di Amerika Serikat, yang dipicu oleh kasus George Floyd, lelaki 46 tahun berkulit hitam dan berbadan tegap, tetapi kemudian tewas di tangan oknum polisi Minneapolis yang menahannya, yang kemudian kematiannya yang mencurigakan itu memicu aksi protes anti-rasisme yang meluas ke kota-kota di Amerika Serikat. Tidak hanya meluas, aksi anti-rasisme itu juga menggaungkan gerakan yang disebut sebagai Black Lives Matter atau BLM ke seluruh penjuru dunia.

Dalam kaitan itu pula, sekitar awal Mei dan awal Juni lalu, kita menyaksikan fenomena yang tidak biasa. Sebuah negara maju yang biasanya tampil parlente dalam tajuk utama media internasional terkemuka, tiba-tiba menyeruak dalam breaking news berita dengan fenomena yang megingatkan kita pada situasi khas negara dunia ketiga. Amerika Serikat, yang selama ini mempromosikan diri sebagai teladan kelembagaan demokrasi, persamaan hukum, juga ketertiban sosial, tiba-tiba tampil dalam ilustrasi yang bertolak belakang. Aksi massa yang menjalar ke kota-kota, amuk sosial yang meraung di jalanan utama, kerusuhan serta penjarahan yang menyeruak di beberapa titik, dan bahkan korban jiwa yang tak terhindarkan, yang biasanya menjadi pemandangan khas berita internasional terkait gejolak politik di negara dunia ketiga, hari ini justru kita cermati dan kita dapati di Amerika Serikat.

Ada apa sesungguhnya dengan Amerika Serikat hari ini? Mengapa sebuah bangsa yang dikenal civic dan kampiun demokrasi tidak mampu menghindarkan diri dari kerusuhan rasial elementer seperti kasus George Floyd tempo hari? Ke mana perginya segala kepemimpinan moral dan soft power Amerika Serikat terkait ini? Sejauh mana gelombang politik identitas tengah memukul balik sendi dasar kehidupan sosial Amerika Serikat hari ini? Sejauh mana kemerosotan hegemonik Amerika Serikat telah berkembang akut dan sulit dikembalikan lagi? Pelajaran penting apa yang dapat kita petik dalam kaitannya dengan hal ini?

Saudara-saudara sekalian, dalam perbincangan kita kali ini, kita akan ditemani dua orang pembicara kunci. Yang pertama adalah Pak Daniel Dhakidae. Pak Daniel Dhakidae sebenarnya tadi sudah ada di ujung Zoom, tetapi nampaknya masih ada kesulitan untuk masuk. Mudah-mudahan nanti bisa segera menyusul bergabung bersama kita.

Kemudian juga bersama kita ada Ibu Suzie Sudarman. Beliau adalah narasumber penting yang selalu dicari kalau kita ingin berbicara tentang Amerika Serikat. Studinya dihabiskan untuk belajar tentang Amerika Serikat. Mulai dari tentang United States Foreign Policy Process di University of Maryland, kemudian juga di John Hopkins University, kemudian sempat lanjut juga di Northwestern University. Kebetulan, beliau juga merupakan Direktur American Studies Center di Universitas Indonesia. Selamat malam, Bu Suzie.

Punctuated Disequilibrium

Suzie Sudarman: Selamat Malam, Pak Joko.

Joko Susanto: Terima kasih Bu Suzie sudah menyempatkan hadir dan berbagi insight di malam hari ini. Ini sebuah kesempatan yang luar biasa bagi kita. Sambil menunggu Pak Daniel, saya mohon izin untuk memulai sesi ini dengan Bu Suzie. Ibu, kalau kita berbicara soal Amerika Serikat, sebagai ahli yang menekuni soal Amerika Serikat, bagaimana Anda secara ringkas menggambarkan apa yang sedang terjadi di Amerika Serikat hari ini? Bolehkah kami menyebut soal George Floyd dan rentetannya ini sebagai etalase dari krisis Amerika Serikat yang lebih besar?

Suzie Sudarman: Saya sebagai orang yang benar-benar melihat domestic dan foreign policy Amerika Serikat merangkum ini dalam beberapa poin yang perlu untuk diingat. Pertama, masalah identitas. Kedua, masalah ideologi atau geopolitik. Ketiga, adalah American values and institutions. Keempat, yang terakhir, yang sangat mempengaruhi terpilih presiden ke-45 ini, adalah teknologi. Identitas yang asal, yang utama, adalah liberal legacy atau liberalisme. Dia sebagai sebuah keyakinan dengan nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, demokrasi. Tetapi yang menonjol justru identitas bahwa Amerika itu spesial, Amerika itu istimewa, dan ini sebetulnya, Amerika sebagai suatu keistimewaan, justru lebih menjadi identitas dari America as a state.

Efek dari identitas Amerika yang terakhir saya sebut yaitu eksepsionalisme, mendorong aktivisme Amerika Serikat ke seluruh dunia. Sebetulnya ia (merupakan) penjaga dari Westphalia 1648. Setelah dia beraktivitas keluar tentunya akhirnya terbentuk imperial overstretch, imperial overstretch yang kebetulan terjadinya bersamaan dengan kondisi di dalam negeri yang semakin liberal, dalam arti pemahaman terkait American liberalism telah memberikan identitas yang sama kepada kaum minoritas, dan itu adalah hot button issues. Setiap kali mereka melakukan sesuatu untuk kelompok yang berwarna kulit berbeda, berasal berbeda, dan beragama berbeda, yang mayoritas yang merasa akan terbahayakan oleh minoritas yang diberikan kesempatan untuk menjadi sama itu menolak, dan sebenarnya yang paling pandai menelusuri ini adalah Samuel Huntington.

Dia (Samuel Huntington) menulis sebuah buku yang namanya Who are We? Buku ini menyatakan dengan jelas pembelahan yang akan terjadi sekarang ini. Ia menyatakan bahwa jika Amerika itu berbeda dari kondisi sekarang, yaitu Protestan, putih, Kristen (WASP/White, Anglo-Saxon, Protestant), Amerika tidak akan menjadi Amerika yang dikenal sebelumnnya. Amerika menjadi sangat multi-kultural dan bermacam-macam, jadi tidak lagi murni, dan itu akan menimbulkan perbedaan dalam ekspresi identitas mereka. Jadi identitas yang sebetulnya baik-baik saja, akhirnya bertransformasi di dalam ideologi bahwa keistimewaan itu akan menebus semua bangsa-bangsa di seluruh dunia. Mereka benar-benar percaya bahwa ada empire of liberty.

Karena dia (American exceptionalism) berubah menjadi ideologi, dia (Amerika Serikat) menjadi empire for liberty. Dia keluar untuk membebaskan segala macam orang. Empire for liberty itu mengandung konotasi Amerika akan terlibat, dan merasa paling istimewa, dan mengubah dunia menjadi sesuatu yang lebih baik. Padahal dalam negerinya bergolak, dalam arti persamaan hak terhadap etnis dan agama lain adalah hot button issues. Kalau kita melihat dari kondisi imperial overstretch dan keadaan inovatif yang mandek karena third generation yang biasanya kurang pandai dari first and second generation, kita bisa mengatakan, “ah, sudah lazim itu”. Karena, toh mereka sudah kaya dan tidak perlu memikirkan apakah harus produktif atau tidak.

Jadi dalam rangka mereka menekankan soal ideologi, yaitu empire for liberty, kondisi imperial overstretch ini melahirkan apa yang disebut dalam istilah institusionalisme sebagai punctuated equilibrium atau suatu keseimbangan yang terselingi. Karena tiba-tiba, orang yang tidak cocok dengan hal ini akan memberontak, dan pemberontakan atau disharmoni ini lazim di Amerika. Huntington menyebutkan disharmoni ini ada sejak zaman revolusi 1760-1770, mengartikulasikan nilai-nilai atau keyakinan Amerika secara nasional. Lalu ada pula juga pada masa Jacksonian 1820-1830, masa progresif pada tahun 1890-1914, reformasi moral di sekitar tahun 1960 dan awal 1970-an, ketika ada upaya pemerintah yang mendorong persamaan hak. Ini menjadi basis bagi ketidakpuasan karena hot button issues. Biasanya, hal ini tercermin dalam pemilihan-pemilihan umum Amerika.

Biasanya, isu yang bisa dibawa selalu adalah siapa yang membela kulit berwarna. Dahulu, Dixiecrats adalah Demokrat, tetapi karena Demokrat akhirnya membela hak-hak kulit hitam, Dixiecrats menjadi Republikan. (Mereka) menjadi orang yang memilih Reagan, yang kemudian disebut sebagai silent majority. Orang-orang kulit putih yang blue collar itu juga akhirnya memilih Reagan, karena isunya bukan hanya isu nasional, tetapi juga isu ketenagakerjaan. Jadi, disharmoni ini selalu membelah, karena kalau misal tidak ada institusi yang cukup aman. Stanford University menulis sebuah riset tentang populisme, mengapa populisme selalu terjadi di Amerika Serikat, sebab dibilang bahwa mainstream political parties atau partai politik arus utama tidak pernah bisa melindungi kerentanan sistem politik demokratis Amerika. Dia selalu terancam oleh gerarakan-gerakan populis dan ini biasa. Sebab ini yang disebut Huntington tadi, American values and institutions. Kalau values mereka merasa tergoncang karena perubahan keseimbangan etnis, mereka berontak terhadap institusinya, dan ini berlangsung bertahun-tahun.

Jadi sebenarnya, nilainya sama, bahwa Amerika itu istimewa yang merupakan cerminan dari nasionalisme mereka. Hanya saja jawaban dari Donald Trump adalah populis-nasionalisme. “Make America Great Again” sama saja dengan American exceptionalism. Hanya saja, mereka membeda-bedakan secara drastis rasisme. Malah ada penulis pada awal Donald Trump baru memerintah, berkata bahwa, “It is an American Tragedy“.

Mengapa sampai seluruh media dan orang-orang sadar bahwa mereka memilih orang yang tidak decent, tidak baik? Malah, mereka terlalu percaya bahwa American institutions punya tendensi untuk membatasi orang-orang yang radikal, membatasi orang-orang yang akan mengganggu. Padahal kalau dalam teori distorted institutionalism, punctuated equilibrium itu selalu terjadi pada kondisi di mana ada kestabilan, tetapi juga terjadi disekuilibrium, tergantung institusinya kuat atau tidak. Kalau saya melihat, sedikit melenceng lagi ke Donald Trump, dia menghadapi American institutions dengan fakeness, ini kelemahan dia. Jadi, lebih kuat institusinya dibandingkan dorongan populisme pengkacauan yang dia lakukan, karena institusi itu lebih stabil. Ini bisa kita pelajari untuk Indonesia.

Kalau Indonesia bisa menghasilkan institusi-institusi yang bisa membatasi populisme, populismenya tidak irasional, begitu, mungkin kita bisa sejahtera. Ini terlihat dalam Donald Trump, dia lemah jadinya. Dalam konseptualisasi Huntington tentang values versus institutions, ternyata institusinya jauh lebih robust, lebih handal. Misal, kemarin, Justice Robert menolak pembatasan aborsi. Jadi, institusi itu sekalipun ia dipilih oleh justice yang Republikan, ia tetap berpihak pada values Amerika yang lazim. Nah, itu kekuatan institusi, kita belum sampai ke kekuatan stateness kita yang robust, sehingga orang-orang yang mengacau itu terkunci dengan institusinya dan akhirnya kalah.

Itu, setidak-tidaknya anda harus lihat bahwa identitas yang sebenarnya hanya values menjadi ideologi. Dia (American values) menyerbu seluruh dunia untuk menjaganya atau merubahnya menjadi exactly like Americans, dia menjadi ideologi. Lalu ideologi itu menjadi sangat dimiskinkan karena overstretch, lalu ada perubahan yang terjadi di rakyatnya karena domestik yang bersifat kesetaraan, dan keluar untuk menyetarakan yang lain-lain. Itu akhirnya berdampak pada ketidakmampuan orang Amerika atau pejabat Amerika untuk kira-kira menjaga negerinya, sehingga lahirlah seorang populis yang menyebutkan “Make America Great Again“.

Padahal, sebetulnya semua ini adalah lahir dari teknologi. Pada saat identitas itu masih ajeg, belum ada media massa, orang-orang yang disebut Hillary Clinton sebagai deplorables itu tidak punya audiens. Tetapi begitu ada media sosial, deplorables atau unacceptable citizens dari Amerika itu bisa memaki-maki Hillary Clinton di media sosial. Sehingga, ia akhirnya kalah hanya karena bad newsnya itu terbuka bagi mereka yang akan menihilkan seorang calon yang akan menjadi ancaman bagi orang yang akan ditunggangi oleh kelompok-kelompok yang marah di Amerika Serikat, yaitu kelompok white supremacists, Nazi dan Neo-Nazi, yang tidak ingin ada kesetaraan dari etnis-etnis lain yang sudah dilembagakan oleh institusi-institusi Amerika. Kurang lebih seperti itu.

Joko Susanto:Baik Ibu, terima kasih. Kebetulan ini Pak Daniel juga sudah bergabung. Mohon maaf, Pak Daniel, atas kesulitan teknisnya tadi. Tapi sebelum ke Pak Daniel, saya ingin gali sedikit dari Ibu. Menarik tadi Ibu, tentang punctuated equilibrium lalu kemudian juga punctuated disequilibrium. Kalau dalam pilihan dua itu, kira-kira situasi sekarang ini, yang dipicu oleh Floyd ini, termasuk punctuated equilbrium atau disequilibrium?

Suzie Sudarman: Disequilibrium, dia adalah punctuated disequilibrium.

Joko Susanto: Jadi ini lebih dekat pada krisis ya, Bu?

Suzie Sudarman: Iya, Dia membuka kemungkinan orang-orang yang populis itu menunggangi dia dan menggunakan media sosial untuk mencari audiens baru yang sebelumnya tidak ada. Pada zaman Obama, bahkan tidak sedahsyat ini media sosialnya.

Kegagalan Impian Amerika?

Joko Susanto: Ini menarik. Ada situasi punctuated disequilibrium, atau ketidakseimbangan yang serius, yang dalam beberapa hal ini distimulir oleh populisme yang dibawa oleh Trump tadi. Pertanyaannya begini, tadi sudah disinggung namun saya ingin membawa lebih jauh. Bukankan secara institusional, ini tadi sudah dibahas, Amerika ini kan juga punya satu value yang sering kali juga diagungkan. Misalkan, bukankah Amerika Serikat masih punya American Dream, yang meskipun orang bisa berbeda pendapat soal itu, banyak juga yang berpendapat bahwa ini dalam beberapa hal berfungsi untuk kemudian meredam pada titik tertentu, gejolak-gejolak yang selama ini berlawanan dengan arus Amerika? Belum lagi dengan gagasannya tentang multikulturalisme, demokrasi, dan juga persamaan hukum yang dipromosikan selama ini. Nah kalau kemudian sekarang, kalau kita lihat dari kasus George Floyd, nilai-nilai ini kan tidak terlalu terlihat bekasnya. Lalu, kemana perginya semua nilai-nilai ini?

Suzie Sudarman: Oke, saya kutip dari tulisan yang saya baca dari New Yorker, dari seorang penulis namanya David Remnick. Dia mengutip George Orwell. Dia bilang George Orwell adalah seorang komentator yang sangat tidak penakut. Dia menunjukkan bahwa opini publik itu tidak lebih bijak dibandingkan dengan manusia yang pada hakikatnya baik. “People can behave foolishly, recklessly, self-destructively, in the agregate just as they can individually. Sometimes all they require is a leader of cunning, a demagog, who reach the ways of resentment and rides them to the populist victory.” Jadi, yang dibutuhkan hanya seorang pemimpin yang kira-kira licik dan demagog untuk membawa mereka ke arah kemenangan.

Lalu disebut di sini, “The law is no protection. Government makes law, but whether they are carried out and how the police behave, depends on the general temper of the country. If large numbers of people are interested in freedom of speech, there will be freedom of speech, even if the law forbids it. If public opinion is sluggish, inconvinient minorities will be prosecuted, even if the law protects them.” Jadi ada hukum untuk melindungi etnis kulit berwarna lain, tapi opini publiknya tenang-tenang saja, seperti ekuilibrium saja.

Akhirnya, inconvinient minorities menjadi victim dari satu proses yang disebutkan oleh Orwell ini, bahwa kalau opini publiknya memang kuat sekalipun itu dilarang, hal itu akan terjadi. Tapi kalau misalnya opini publiknya kurang kuat, seperti kita, kurang dalam menghadapi 212 dan sebagainya, inconvinient minorities akan dipersekusi. Anti ras Cina, Kristen, dan sebagainya. Karena memang ini disebutkan oleh Orwell ini sangat menarik dari tulisannya 1984, sampai sekarang masih relevan begitu, ya.

Joko Susanto: Iya, dan Bu Suzie pada posisi bahwa  yang dimainkan oleh Donald Trump sedikit banyak memberikan suatu aksen baru dalam politik demagogi, seperti itukah yang dimaksud tadi?

Suzie Sudarman: Iya, betul.

Joko Susanto: Baik, terima kasih Ibu Suzie. Sebuah pembukaan yang sangat menarik. Ini kebetulan Pak Daniel juga sudah bergabung. Selamat malam, Pak Daniel.

Daniel Dhakidae: Selamat malam.

Trumpisme dan Krisis Amerika Serikat

Joko Susanto: Terima kasih, Pak, sudah hadir, mohon maaf tadi sempat tertunda. Baik, Pak Daniel ini adalah, saya kira semua orang sudah kenal, pemimpin umum dan juga pemimpin redaksi Jurnal Prisma. Jurnal Prisma ini kalau saya boleh bilang ini sangat legendaris. Saya biasa menyebut bahwa Prisma ini adalah ‘paus’nya intelektual Indonesia. Zaman dahulu ini kalau belum menulis di Prisma, belum ‘ditasbihkan’ sebagai intelektual di Indonesia. Pak Daniel ini adalah pimpinan redaksi dan pimpinan umum Jurnal Prisma, sekaligus juga peneliti pada LP3ES. Pendidikan beliau, Ph.D.nya dari Cornell University, dan juga sebelumnya masternya dari Cornell University. Sempat menjadi Kepala Penelitian dan Pengembangan Kompas 1994-2006. Sekarang juga menjadi peneliti pada LP3ES, suatu lembaga yang juga sangat dikenal di Indonesia.

Baik, Pak Daniel. Bu Suzie tadi telah menyinggung soal faktor Trump dalam faktor Amerika Serikat saat ini. Yang digarisbawahi Bu Suzie, Trump dengan demagoginya ternyata memainkan peran besar sampai kemudian membuat kita sulit mengenal Amerika dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang selama ini kita kenal dan dengar dari Amerika selama ini. Jauh hari sebelum ini, saya ingat Pak Daniel pernah menulis artikel di harian Kompas tentang Trumpisme, bahwa sebelum semua ini terjadi, ketika di awal, Pak Daniel menulis tentang itu. Kami menangkap bahwa dalam kaitan itu, Trump nampaknya bukan lagi sekadar nama orang, tapi representasi dari gagasan atau cara pandang. Dalam faktanya, Trump juga tidak sendiri. Ada separuh dari electoral vote yang ada di belakangnya. Kalau saya baca dari Pak Daniel ini, Trump ini nampaknya tidak hanya Trump sebagai manusia, tapi ada suatu sistem gagasan. Pertanyaan saya adalah, seberapa jauh gagasan atau cara pandang Trumpisme itu berkorelasi dengan situasi krisis Amerika hari ini, Pak?

Daniel Dhakidae: Satu pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab, tetapi artinya begini. Semua orang melihat Trump dengan satu, penuh amarah, kedua, pesimisme, dan ketiga, unfit untuk memimpin Amerika. Kira-kira itu pendapat yang dilontarkan kepada Trump. Saya berada pada suatu posisi yaitu bahwa, jangan melihat Trump sebagai Donald Trump, karena dia memenangkan pemilihan umum. Dan kalau dia memenangkan pemilihan umum, sebagian besar orang Amerika mendukung dia. Dan kalau sekiranya sebagian besar orang Amerika mendukung Trump, artinya mereka ada preferensi tertentu terhadap apa yang dibawa oleh Trump. Apa yang dibawa oleh Trump? Dibawa oleh Trump yaitu krisis. Itu yang dibawa Trump empat tahun lalu. Ketika saya menulis itu, 30 hari sesudah dia jadi presiden. Nah, pesan yang dibawa oleh Trump adalah American crisis.

Kedua, tidak ada orang yang pernah address issues bahwa Amerika ini krisis, kecuali saya. “Saya adalah Trump, di luar saya, tidak ada yang pernah berbicara bahwa Amerika krisis.” Dimana krisisnya? Krisisnya adalah bahwa seluruh kekuatan modal Amerika dihisap keluar. Keluar itu artinya ke luar negeri, dalam bentuk investasi di Cina, Eropa, di mana-mana, di luar Amerika. Ini yang membawa krisis Amerika. Ini memungkinkan bahwa white middle class tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan. “Apa yang akan saya buat? I will bring all those back to America. Dengan itu, saya akan mengatasi krisis Amerika.” Saya pikir inilah adalah pesan, memang seperti Bu Suzie tadi bilang, pesan populis yang dikeluarkan seorang demagog dan meyakinkan Amerika, terutama white Americans.

Nah, dengan meyakinkan white Americans, kan sudah ada unsur-unsur rasial di sana itu. Dengan kata lain, naiknya Trump benar-benar menaikkan rasialisme itu. Dan bila dia bilang ini “America first“, maka yang dibilang “America first” itu adalah white American first. Kira-kira seperti itu, saya melihat Donald Trump sebagai sebuah fenomena, bukan semata-mata membaca psikologi Donald Trump saja, tetapi Donald Trump sebagai suatu fenomena, suatu gejala Amerika modern sekarang ini. Yang artinya bahwa bila ia sebut white American, meskipun tidak semua ia sebut, namun saya pikir unsur rasialis itu sudah ada di sana.  Dan karena itu, artinya George Floyd ini, saya pikir masuk pada suatu lingkungan yang sudah menjadi sebegitu rasis, sehingga ledakan George Floyd itu bukan main. Dan itu tidak bisa dilawan (ditandingi), termasuk oleh seluruh gerakan dalam (protes terhadap kematian) Martin Luther King, tidak bisa melawan gerakan yang dibongkar oleh kematian George Floyd.

Dan bukan hanya di Amerika, di seluruh dunia. Kecuali di Indonesia ya, di Indonesia kalau hal-hal seperti ini tidak sensitif, ada urusan lain.  Indonesia lebih sensitif kalau urusan agama, kalau urusan ras begini tidak. Tetapi kalau di Eropa disapu bersih hampir seluruh Eropa, terutama di Eropa Barat. Seluruh gerakan anti itu masuk ke Inggris, masuk ke Belanda, masuk ke Belgia, dan saya lebih mengamati tiga negara itu. Kalau negara lain saya tidak terlalu mempelajari, namun tiga tempat itu saya cukup mempelajari itu, yaitu Inggris, Belanda, dan Belgia. Jadi, pengaruh dari dibunuhnya George Floyd itu masuk secara masif ke mana-mana, termasuk ke Australia. Dan di sana saya melihat memang ada hubungan kenaikan Donald Trump dengan gerakan rasial yang dipicu oleh kematian George Floyd.

Warisan Kapitalisme Selatan

Joko Susanto: Baik, terima kasih, Pak Daniel, yang secara menarik kemudian menghadirkan Trump sebagai simbol bagi krisis Amerika Serikat, yang secara tidak langsung menghubungkan gejolak anti-rasisme ini dengan suatu elemen yang lebih struktural dan fundamental dalam kaitannya dengan ekonomi politik. Ini mengingatkan saya dengan apa yang disampaikan oleh Marx bahwa dalam beberapa hal, rasisme memang soal ekonomi politik, soal moda produksi. Dan tadi lebih menarik lagi disampaikan bahwa Trump merupakan salah satu simbolisasi dari kapitalisme Amerika yang in crisis. Pertanyaan saya, mengapa Amerika Serikat lari ke sistem kapitalisme yang sangat primitif dan rasis seperti ini? Kalau kita tahu, di Amerika sebenarnya ada dua (model kapitalisme): di utara menolak perbudakan dan rasisme, tapi kalau di selatan cenderung tumbuh subur. Kalau seperti ini, model kapitalisme yang tumbuh kok cenderung seperti di selatan. Mengapa demikian?

Daniel Dhakidae: Kapitalisme di selatan merupakan kapitalisme tua atau kapitalisme perkebunan yang memerlukan perkebunan-perkebunan kapas dan memerlukan masuknya orang-orang hitam dari seluruh dunia, terutama dari Afrika. Dengan demikian, kapitalisme Amerika dengan perbudakan menjadi satu, benar-benar menjadi satu. Tanpa perbudakan, tidak akan hidup kapitalisme Amerika itu. Tapi pada akhirnya, muncullah orang-orang yang menghancurkan kapitalisme di selatan. Nah, sekarang ada gejala yang menarik, yaitu bahwa Amerika tidak bisa hidup tanpa orang hitam di Amerika. Artinya, mematikan, menghancurkan, dan menekan orang hitam akan merusak kapitalisme di Amerika Serikat itu sendiri. Dalam pengertian itu terjadi semacam transformasi kapitalisme Amerika ke dalam suatu jenis kapitalisme lain, yaitu masuknya cotton silk ke dalam dunia industri yang lebih hebat —bukan lagi industri pertanian— dan tenaga-tenaga hitam pun ada di sana. Itu yang pertama.

Kedua, kapitalisme yang bertransformasi ke kapitalisme olahraga, misalnya. Hampir tidak ada olahraga di Amerika tanpa orang hitam yang memegang peranan penting di sana. Di kalangan orang hitam ini, juga ada pemikiran bahwa mereka telah bekerja dengan keras dalam dunia olahraga, seperti basketball yang berhasil melahirkan bintang-bintang besar. Mereka mulai berpikir apakah sesungguhnya mereka telah menjadi buruh dalam kapitalisme olahraga. Pemikiran semacam ini telah menghubungkan kapitalisme dalam dunia olahraga dengan cotton fields ratusan tahun yang lalu.

Ketiga, kapitalisme di bidang seni atau musik. Seluruh kapitalis Amerika dalam bidang pop music, misalnya, hampir tidak bisa terpisahkan dari orang-orang hitam. Dalam basketball kita kenal Michael Jordan, dalam musik kita kenal Michael Jackson, dan macam-macam lagi. Nama-nama tersebut seolah berada dalam satu dunia transformasi kapitalisme Amerika dari perkebunan menjadi yang lebih tinggi, yaitu kapitalisme dalam dunia artistik. Menurut saya, ini merupakan gejala yang tidak ada di banyak tempat, hanya ada di Amerika. Karena itu, seluruh tagline, prinsip yang dikemukakan, Black Lives Matter, merupakan terjemahan dari transformasi tersebut. Slogan ini sangatlah powerful karena bisa menguasai Amerika sendiri, menguasai Inggris, Belanda, Belgia, dan di tempat-tempat (negara) lain lagi. Gejala rasialisme merupakan perkembangan kapitalisme Amerika.

Joko Susanto: Baik, kalau saya tangkap tadi, walaupun kapitalisme sudah berkembang semakin canggih, namun sebenarnya watak kapitalisme Amerika tidak banyak berubah karena mengandalkan kulit hitam sebagai salah satu resource utama. Kalau dulu di perkebunan, sekarang di olahraga, seni, dan musik. Berikutnya tadi yang menarik, Pak Daniel sempat menyebutkan tentang kapitalisme khas Amerika. Menurut saya, ini menjadi krusial karena gerakan anti-rasisme berkembang di seluruh dunia dan banyak orang yang menganggap bahwa gerakan tersebut merupakan panggilan untuk dunia, bukan hanya satu situasi khas Amerika. Yang ingin saya tanyakan adalah, seberapa jauh kekhasan tersebut?

Ada dua pandangan yang saya tangkap. Satu, pihak yang meyakini bahwa meskipun krisis ini sudah meluas di seluruh dunia, namun kronik dasarnya ialah khas Amerika Serikat. Jadi, kemerosotan hegemonik yang di reaksi secara membabibuta dan menimbulkan kemerosotan yang lebih jauh lagi. Di sisi lain ada juga pihak yang menganggap bahwa krisis ini merupakan situasi generik, yakni situasi gelombang pasang politik identitas yang mencoba memberikan alternatif bagi sistem inklusi negara bangsa di mana saja, bahkan yang paling civic sekali pun. Sepertinya Pak Daniel lebih condong ke posisi yang pertama karena menyatakan bahwa ini adalah posisi yang muncul dalam beberapa hal kaitannya dengan kapitalisme khas Amerika. Seperti itu kah, Pak Daniel?

Daniel Dhakidae: Kapitalisme khas Amerika dalam pengertian tadi itu, yaitu hubungan buruh, the Blacks, dan kapitalisme. Sebut saja perkebunan, kemudian masuk ke dunia industri yang lebih tinggi, dan akhirnya masuk ke dunia industri kesenian dan olahraga. Apabila hubungan semacam ini diputus, seperti yang dilakukan oleh Donald Trump dengan melihat orang berkulit hitam sebagai sesuatu yang lebih rendah, maka rasisme di Amerika menjadi institutional racism. Dia masuk ke dalam dunia kapital, dia masuk ke dalam dunia state, terutama dalam (praktik) polisi itu. Dia masuk ke dalam dunia kerja, dia masuk juga ke dalam state institutions yang lain selain polisi.

Akhir Hegemoni Amerika?

Joko Susanto: Baik, Pak Daniel. Ini pertanyaan terakhir dari saya. Kalau ada beberapa hal yang eksepsional dari Amerika, di samping ada pula beberapa hal yang generik, kira-kira pelajaran besar apa yang bisa dipetik bagi dunia dan Indonesia? Apakah secara moral cukup berdasar untuk menyamakan begitu saja situasi krisis Amerika Serikat dengan situasi di Indonesia? Misalnya Black Lives Matter sama dengan Papuan Lives Matter, atau sejenisnya. Bukankah kita juga awalnya merupakan bangsa yang civic, tapi belakangan juga jatuh dengan kemunduran politik identitas yang kurang lebih sama. Ini kira-kira bagaimana, Pak?

Daniel Dhakidae: Ada dua persoalan di sana, apakah krisis Amerika saat ini juga mencerminkan rising pada politik identitas atau decline. Ada juga beberapa hal yang berjalan secara bersamaan di Amerika, yaitu krisis korona, krisis rasial, dan krisis power akibat Donald Trump. Krisis power Donald Trump ini artinya bahwa dia mungkin bisa bersinggungan dengan the decline of American empire. Saya tidak berani untuk berspekulasi terlalu jauh, tetapi seluruh krisis ini benar-benar mengguncang posisi Amerika di dunia. Misalnya pertama, di dalam krisis korona, Amerika tidak bersuara dan tidak bisa berbuat apa-apa. Malah Cina yang banyak berperan dengan memberikan bantuan dan solusi terhadap krisis yang dialami oleh dunia internasional saat ini.

Yang kedua, kita dapat lihat dalam pemilihan umum Amerika yang mengangkat Donald Trump. Terlepas dari benar atau tidak benarnya bahwa semua ini adalah konspirasi dan sejenisnya, tetapi yang terjadi ialah campur tangan dari luar yang luar biasa ke dalam sistem pemilihan umum Amerika. Menurut saya ini menunjukkan adanya corosity atau banyak lubang, sehingga mudah dimasuki oleh Rusia yang dituduh telah mencampuri dan memporak-porandakkan sistem pemilihan umum di Amerika. Masalah ini menjadi gejolak power di Amerika dan prediksi mengenai sejak kapan decline of American power berlangsung. Meskipun dalam beberapa dekade terakhir ini, Turki misalnya, telah menjadikan mata uang luar sebagai referensi utama dari sistem keuangannya. Ini sudah menjadi tanda-tanda adanya pergeseran. Akan tetapi, dolar tetap menjadi simbol utama kapitalisme dunia.

Yang kedua adalah military power America yang belum tertandingi. Militer Amerika Serikat memiliki teknologi yang canggih, misalnya teknologi yang digunakan dalam penumpasan Osama bin Laden berupa penggunaan sistem suara yang tidak bisa dikenali oleh Pakistan. Itu masih dalam era Obama. Di era Donald Trump sekarang, terjadi show of force kemampuan teknologi milik Amerika Serikat ketika terjadi pembunuhan Jenderal Iran, Soleimani itu. Kedua kasus tersebut menunjukkan adanya kekuatan militer yang kuat dari Amerika Serikat, meskipun banyak mendapatkan kritik dari dunia. Banyak yang menganggap Amerika sudah jatuh.

Namun menurut saya, Amerika sedang diguncang supremasinya, mulai dari supremasi militer hingga supremasi Amerika sebagai superpower. Dengan melihat itu, saya pikir tidak gampang memprediksikan bahwa Amerika sudah jatuh. Tetapi, yang menurut saya benar adalah sudah diguncang ini, seluruh supremasi politik internasional, supremasi militer, dan macam-macam. Dan itu pun akan mengguncang posisi dari American superpower itu sendiri. Mengenai pertanyaan apakah ada gema dalam urusan Papua. Saya pikir ini adalah pertanyaan yang sangat-sangat sulit. Rasa tertindas secara rasial memang ada, dan ini harus dicari solusi yang sangat hebat (baik). Kalau tidak, maka akan menjadi suatu jalinan atau jaringan dengan racial crisis yang ada di Amerika. Dan apabila terjadi, maka akan sangat berbahaya. Itu saja yang bisa saya kemukakan.

Periuk Pelebur yang Gagal?

Joko Susanto: Baik. Terima kasih, Pak Daniel. Sebuah elaborasi yang sangat luar biasa, karena kita bisa mendapat hal-hal besar dalam waktu yang singkat ini. Mulai dari identity yang dikupas secara struktural dan mendasar, sampai masuk ke akar-akar yang mendalam terkait sistem moda produksi dan lainnya. Sekarang kita akan masuk ke sesi tanya jawab peserta. Para peserta diskusi kita, baik yang berpartisipasi melalui platform Zoom maupun Youtube, telah mengajukan beberapa pertanyaan bagus. Dikarenakan ada banyak, maka terpaksa kita sajikan dalam clusters pertanyaan. Saya akan mulai dari pertanyaan dari Dr. Ariesani Hermawanto, Dosen UPN Yogyakarta. Pak Ariesani, terima kasih. Pertanyaannya, apakah kasus rasialisme yang terjadi di Amerika Serikat adalah kelanjutan dari kegagalan proyek Satu Bangsa Amerika (The Melting Pot atau Periuk Pelebur)? Menurut Bu Suzie, apakah benar demikian?

Suzie Sudarman: Saya sambung dengan Daniel saja. Kondisi perekonomian Amerika sebenarnya memicu segala konflik. Kalau Amerika tidak tergantung pada hutang dan inovatif, membangun kembali manufacturing yang tidak mereka lakukan sama sekali, tentunya ini menjadi masalah kebangsaan. Masalah kebangsaan di Amerika adalah orang kayanya kurang dipajak dan kurang mau menginvestasikan uangnya di dalam negeri. Jadi bukan proyek kegagalan, tapi ketamakan, ketamakan dari para kapitalis yang kaya raya karena mereka terus-menerus di potong pajaknya. Ini menyebabkan perekonomian Amerika menjadi sangat memprihatinkan. Korporasi lebih baik (memilih) untuk pindah keluar guna mencari tenaga kerja yang murah, karena tenaga kerja di Amerika mahal. Misalnya, seorang automobile worker bisa digaji 70 dolar per jam.

Kalau hal-hal seperti basis ekonominya tidak diperkuat dan orang kayanya tidak berkomitmen, Hillary Clinton pernah meminta UBS untuk mengumumkan orang-orang kaya Amerika yang memiliki uang di Swiss. Kalau tidak, UBS tidak boleh bergerak di Amerika Serikat. Obama juga telah melarang Walgreens yang akan pindah dan membuat headquarter di Jerman karena lebih murah dibandingkan kalau mereka tetap di Amerika Serikat. Jadi, banyak hal yang sebenarnya bukan faktor kebangsaan, tetapi faktor posisi perpajakan yang kurang adil dan kurang bisa memberikan insentif bagi orang kaya untuk mencoba menjadi bagian dari ekonomi Amerika yang diperbaharui, karena ekonomi Amerika sudah sangat tua. Infrastrukturnya juga sudah sangat tua.

Sama sekali tidak dipikirkan tentang bagaimana memperbaiki infrastruktur, bagaimana memperbaiki semua yang sudah lama sekali. Ini kan butuh komitmen dari para orang-orang kaya Amerika, sedangkan orang-orang kaya Amerika berlagak seperti Donald Trump yang tidak peduli. Bahkan kalau perlu, mereka justru mencari uang di luar negeri untuk kantongnya sendiri. Apakah ini termasuk kegagalan kebangsaan? Saya kira too early untuk men-judge demikian, karena orang yang ingin menjadi warga negara Amerika terlalu banyak dan terlalu ingin membuat bangsa itu menjadi jaya.

Kalau kita lihat korban pertama dari Perang Irak adalah seorang Hispanic American yang undocumented. Jadi, sangatlah besar aspirasi dari orang-orang tersebut untuk menjadikan Amerika sebagai bangsanya. Inilah yang kuat karena tidak akan mungkin memiliki kawan Amerika yang akan membongkar negaranya agar bisa melakukan kejahatan kepada negaranya. Berbeda dengan negara Dunia Ketiga yang antre untuk melaporkan kejahatan negaranya. Kalau di Amerika, jarang sekali bisa mencari tahu tentang orang-orang tersebut, kecuali anggota Kongres yang sudah kaya dan mencari uang, dana, atau sumbangan dari Rusia. Nah, ini yang menjadi komponen apakah kebangsaan sudah menurun atau sebenarnya hanya ketamakan saja.

Sistem pemilihan di Amerika sangatlah rakus karena harus memiliki dana sebesar-besarnya agar bisa menang, dan harganya makin lama makin tinggi. Kalau sistem politiknya itu tidak diperbaiki dan sistem perpajakannya tidak dibuat lebih adil, mungkin Amerika akan collapse. Bukan karena kebangsaannya turun, tetapi memang mekanisme dari institusinya telah dibuat sedemikian rupa agar tidak menyulitkan bagi orang kaya. Jadi kalau Republikan keluar, dia harus menjanjikan kepada kapitalis-kapitalis unggulnya bahwa mereka akan dilindungi, mereka tidak akan dipajak, dan sebagainya.

Apakah ini sama dengan kebangsaan yang luntur? Saya kira kebangsaan Amerika masih kuat karena sudah ada semenjak SD, SMP, SMA, dan terus-menerus dipompa juga oleh cultural industries-nya. Televisi kabel selalu membesar-besarkan rasa cinta kepada bangsanya. Kalau Amerika berperang, di ujung acara televisi ada bendera Amerika yang berkibar-kibar. Jadi kalau pertanyaan mengenai kekurangan kebangsaan, saya kira tidak. Hanya saja, sistemnya harus diubah agar lebih adil.

Make America Great Again

Joko Susanto: Menarik, Ibu. Seperti Pak Daniel, Ibu berposisi bahwa ini problemnya ada di basis materiil, di sistem ekonomi politiknya, yang kemudian mungkin belum disampaikan menyentuh soal ruang kesadaran yang tadi. Tapi juga diakui bahwa kemungkinan ada perubahan. Nah, kebetulan terkait ini, ini ada beberapa pertanyaan yang relevan terkait dengan kemungkinan seberapa jauh ini akan memengaruhi (dinamika ekonomi dan politik di Amerika Serikat). Dan pertanyaan yang terkait dengan itu misalkan disampaikan oleh Prof. Benny Setianto. Prof. Benny ini kebetulan adalah Wakil Rektor Unika, kalau tidak salah. Beliau bertanya, sejauh mana atau apakah demonstrasi rasial ini akan benar-benar berdampak signifikan terhadap Amerika?

Kemudian juga ada pertanyaan dari Yohanes Ivan Kristianti dari University of Groningen. Peserta kita ini banyak juga yang dari warga Indonesia yang ada di mana-mana. Seberapa jauh ini akan kemudian mengubah pendekatan Partai Republik ke depan terkait dengan pemilu yang akan datang ini? Apakah ada prediksi strategi dan manifesto baru yang kemudian mungkin akan mengusulkan perubahan? Lebih spesifik lagi, apakah slogan Make America Great Again masih akan dipakai, Bu? Kalau kemudian terbukti bahwa ini ada semacam cross-check melalui George Floyd ini, kira-kira masih akan pakai itu tidak, ya?

Suzie Sudarman: So far, sih, Republikan sudah delegitimized, karena ia takut pada Donald Trump. Congressmen takut pada Donald Trump, dan Donald Trump semena-mena begitu sehingga mungkin ia akan kalah suara. Tetapi, kita masih tunggu, nih. Karena Juli, Agustus, September, Oktober, November masih lama. Kalau dia melakukan peperangan di Laut Cina Selatan, itu bisa memenangkan election-nya Donald Trump. Jadi, sebenarnya yang khawatir seharusnya kita. Apakah peperangan antara American Navy dengan Chinese Navy itu akan berlangsung di Laut Cina Selatan? Karena itu jalan satu-satunya untuk Donald Trump menang. Biasanya, Americans have the tendency to rally around the flag. Kalau perang, mereka akan membela presidennya. Jadi, justru kita yang harus was-was, nih. Donald Trump kan gila, ya. Jadi dia akan melakukan apa pun demi kemenangan dan itu membahayakan, menurut saya.

Perbedaan di Indonesia

Joko Susanto: Baik, baik, terima kasih. Tadi Ibu menyinggung soal Indonesia. Saya akan juga ke Pak Daniel setelah ini. Ada beberapa pertanyaan yang menarik terkait dengan Indonesia. Misalkan kemudian dari Saudara Wasis Istiyoko, yang bertanya tentang bagaimana Indonesia yang multietnis dan multikultural mampu merawat kebhinekaan dalam konteks rasialisme? Sebelum itu, ada yang bertanya, apakah sebenarnya rasialisme sistemik terdapat juga di Indonesia? Dari Chairun Nisya ini. Saya ingin memulai dari Pak Daniel. Kalau kita dengarkan dari penjelasan Pak Daniel tadi kan nampak rasialisme yang struktural dan sistemik kemudian berkolusi dengan kapitalisme. Apakah yang seperti itu terdapat pula di Indonesia?

Daniel Dhakidae: Menurut saya dua hal sangat berbeda, karena kapitalisme Amerika, terutama plantation capitalism-nya itu, dari zaman cotton fields abad 17-18 misalnya itu semata-mata berpijak pada buruh hitam. Tanpa orang-orang hitam, seluruh plantation capitalism itu tidak bergerak. Nah, Indonesia ini kan sedikit berbeda. Berbeda dalam arti seluruh kapitalisme Belanda itu adalah pada dasarnya racist capitalism juga di sini, yaitu dengan menurunkan derajat para terjajah ini ke dalam posisi yang benar-benar posisi slave. (Praktik ini) slavery juga. Karena itu, dengan seluruh gerak yang menjadi akibat dari George Floyd ini, yang tadi tidak sempat saya singgung, kembali masalah-masalah yang past dipersoalkan di Amerika. Colonial past dipersoalkan di Inggris, colonial past dipersoalkan di Belanda, dan nama-nama seperti Jan Pieterszoon Coen yang begitu akrab di telinga Indonesia itu juga patungnya mau diseret ke luar. Dibongkar (patung) itu, karena berhubungan dengan slavery, dan slavery dalam urusan J.P. Coen adalah Hongitochten di Maluku, yang membinasakan kira-kira ada belasan ribu orang di sana.

Nah, saya pikir, dengan melihat sejarah kapitalisme di Indonesia ini, Indonesia sebagai Republik Indonesia tidak mengalami itu. Tetapi, Indonesia dalam pengertian (era kolonial Belanda) ini tidak semasif Amerika, tetapi ada warna-warna rasisme dalam kapitalisme kolonial di sini. Nah, sekarang masuk ke dalam (konteks) Indonesia merdeka. Saya pikir di dalam membangun sistem kapitalisme Amerika, urusan yang tadinya waktu Belanda sangat rasis, sekarang tidak lagi karena semua menjadi citizens, menjadi warga negara dan seterusnya. Dan karena itu unsur slavery hampir-hampir tidak bisa kita dengar sekarang ini.

Nah, persoalan baru muncul dengan urusan Papua, yaitu bahwa ini adalah suatu wilayah yang super kaya. Tidak ada satu pulau sekarang ini (yang) sekaya Pulau Papua itu. Itu kan pulau benua, yang dimiliki oleh kelompok etnis yang tidak bisa menguasai kekayaan itu. Kalau dalam hal teknologi kekurangan ini dan seterusnya masuk ke dalam dunia kapital Indonesia, menurut saya memang akan menjadi persoalan besar. Persoalan besar terutama karena resource yang besar tidak masuk ke dalam (ekonomi) orang-orang Papua itu atau tidak dikuasai oleh orang-orang Papua. Saya pikir ini akan menjadi sesuatu yang bisa memicu persoalan di kemudian hari. Dan kemudian hari itu jangan-jangan tidak lama, dalam sepuluh tahun, lima belas tahun, tidak tahu.

Joko Susanto: Baik, baik Pak Dan. Ini menarik, mengingatkan bahwa sebagai bangsa, Indonesia ini adalah antitesis dari rasialisme Belanda, bukan prognosis daripada rasialisme tadi. Tapi boleh tidak, di sini ada Pak Wasis Istiyoko (yang) menyebutkan, boleh tidak kalau kira-kira Indonesia ini disebut sebagai ‘rasisme tertutup’? Apakah mungkin Indonesia menjadi bagian dari itu? Karena di sini (Wasis Istiyoko) mengutip bahwa menurut Social Progress Index ini ada tren yang cenderung meningkat, saya tapi kurang tahu apa yang meningkat ini, dari posisi 117 ke 128, apakah ini berkaitan dengan soal rasialismenya? Mungkin bisa dibantu. Tetapi, yang ingin saya tanyakan, Pak, singkat saja: kalau itu bukan rasisme sistemik, boleh tidak disebut sebagai rasisme tertutup, Pak Daniel?

Daniel Dhakidae: Rasisme tertutup, istilah ini agak membingungkan. Tetapi kalau yang dimaksudkan di sana adalah disguised racialism, jangan-jangan ada. Dan itu bisa disaksikan dari yang terjadi di Surabaya, meledak kemudian dalam urusan kesehatan di Timika dan seterusnya. Meledak lagi dalam arti bahwa yang terjadi di Papua adalah semacam population politics yang dikerjakan oleh Orde Baru sebegitu rupa sampai pendatang di sana hampir 50:50 dengan orang Papua sendiri. Nah, dengan itu kan artinya ada terjadi semacam colony-making, dan jika terjadi colony-making akibatnya akan meledak pada suatu saat.

Kemerosotan Moral Amerika

Joko Susanto: Baik, ini ada pertanyaan dari Mbak Wenta. Apakah dengan semua persoalan ini, Amerika sebagai negara adidaya masih patut dicontoh? Artinya, masih menjadi suatu pemegang leadership. Saya tahu Pak Daniel tadi sudah menjelaskan terkait dengan hegemoni ini. Sepanjang itu berkaitan dengan soal dolar, kemudian soal militer, itu kemudian paling tidak masih ada leading, lah, Amerika. Sekarang pertanyaannya kalau yang berkaitan dengan soft power, kepemimpinan terkait dengan nilai, apakah dia masih bisa dicontoh, Pak? Setelah kasus yang seperti ini.

Daniel Dhakidae: Kalau melihat kasus sebab-akibat dari meninggalnya George Floyd, saya pikir hampir tidak ada yang bisa dicontoh lagi. Artinya, Amerika sangat menurun dalam suatu moral influence ke wilayah-wilayah (negara-negara) lain.

Joko Susanto: Berarti, itu kemerosotan secara soft power, ya? Baik, terima kasih. Ini waktu kita sudah semakin sedikit. Saya akan menutup sesi ini dengan beberapa pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan Indonesia, mengingat walaupun mungkin tidak menyebut ini sebagai rasisme, ada problem terkait identitas, terkait SARA, ada politik identitas yang sekarang sedang naik, Mas Petrus Riski dari VOA (Voice of America) salah satunya yang menanyakan itu. Kemudian juga tadi banyak yang kemudian bertanya tentang bagaimana Indonesia harus melakukan segala hal terkait dengan persoalan ini, tadi ada juga dari Mbak Chairun Nisya, kemudian juga ada dari Mas Maula Haykal, ada banyak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Secara umum (para penanya tersebut) bertanya: kira-kira, kalau kemudian kita harus betul-betul belajar dari apa yang terjadi di Amerika, walaupun kita tahu ada beberapa kondisi sistemik yang berbeda, kira-kira apa yang kemudian kita harus persiapkan terkait dengan kecenderungan-kecenderungan politik identitas yang terjadi di Indonesia? Saya akan mulai dari Bu Suzie. Singkat saja, Bu.

Suzie Sudarman: Oke, tadi saya bicara tentang punctuated equilibrium. Saya pikir yang bisa dicontoh dari kondisi Amerika (adalah bahwa ketika) mereka berdemonstrasi, isunya satu dan tidak merobek fundamental yang ada dalam konstitusinya. Jadi, punctuated equilibrium tidak sampai merobek-robek konstitusinya. Nah, ini yang harus dicontoh, karena mereka berdemonstrasi untuk menjadi included di dalam konstitusinya. Kalau di Indonesia, baby-nya (konstitusi) mau dibuang bersama airnya (isu-isu yang dihadapi), begitu ya.

Jadi, punctuated equilibrium harus bisa distabilisasi, karena memang yang bersuara itu bukan fake, tapi bersuara dengan isu-isu yang memang ada di masyarakat. Kalau di Indonesia, kelihatannya kebanyakan fake issues. Bilangnya Islam didiskriminasi, Islam dikriminalisasi, dan sebagainya yang sebetulnya fake. Dan ini masuk ke dalam kategori demagogi. Nah, ini bagaimana kita menguasai bahwa punctuated equilibrium yang disebabkan oleh fake violence atau fake demonstrations itu bisa terkendalikan oleh established authorities. Kalau tidak, kita akan chaos. Padahal, fakeness is not the real issue. The real issue adalah kesejahteraan. That’s what we aim. That’s what we ought to reach.

Joko Susanto: Jadi, kalau mau menyelesaikan, ya selesaikan soal itu tadi, kembali soal ekonomi politik dasar tadi ya, Bu?

Suzie Sudarman: Ya.

Pelajaran untuk Indonesia

Joko Susanto: Baik. Pak Daniel, terkait apa yang harus dilakukan Indonesia, apa Pak, kira-kira?

Daniel Dhakidae: Mirip-mirip dengan yang dibilang Bu Suzie tadi, yaitu bahwa yang kita pelajari dari Amerika adalah electoral democracy, tanpa melibatkan di dalam sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu deliberative democracy. Amerika menggabungkan keduanya, yaitu yang elektoral digabung dengan yang deliberatif. Yang deliberatif yaitu demokrasi yang memang mementingkan substansi, dan substansi ini salah satunya juga adalah kemakmuran ekonomi. Itu yang selalu diteriak-teriakkan oleh Donald Trump, “we are the wealthiest in the world,” kita yang paling kaya di muka bumi ini. Nah, hanya persoalannya seperti yang dibilang Ibu Suzie tadi juga, yaitu bahwa gap dari the richest Americans dengan the poorest Americans, dan juga waktu kita sebut the poorest artinya the Blacks dan the coloreds. Itu yang harus dibenahi, dihadirkan. Di sini juga menurut saya memang harus dibenahi juga itu, yaitu justice, social justice, dan urusan social justice bukan urusan komunisme, tapi urusan citizenship Republik Indonesia. Nah, itu kira-kira, kalau (Indonesia) mau pelajari sesuatu dari Amerika.

Joko Susanto: Oke, baik. Ini sedikit beberapa orang dengan yang terjadi di dunia ini, Black Lives Matters ini mulai kemudian ikut-ikut juga meneriakkan bahwa hal yang sama perlu dilakukan di Indonesia. Nah, yang ingin saya tanya, di mana kira-kira posisi Pak Daniel di antara pilihan apakah kita harus meneriakkan Black Lives Matter, atau ada juga yang meneriakkan All Lives Matter. Kita harus pilih yang mana kira-kira, Pak? Kita ikut yang Black Lives Matter atau yang mana ini? Ada juga yang berteriak All Lives Matter? Bagaimana kira-kira ini?

Daniel Dhakidae: Ya, citizens’ lives yang menjadi persoalan.

Joko Susanto: Citizens?

Daniel Dhakidae: Bukan white, atau black, atau apa, (melainkan) citizens’ lives. Dan citizens’ lives adalah keadilan dan kemakmuran. Itu diikuti oleh social justice, yang menurut saya sangat disayangkan bahwa isu social justice dibilang isu komunis. Mengerikan, tertampar kepala saya ini hampir jatuh tunggang langgang. Masa ada di Indonesia zaman sekarang ini, social justice (dianggap) adalah urusan komunis? Saya pikir itulah salah satu yang harus diperangi, bukan soal yang lain-lain.

Joko Susanto: Padahal itu ada di sila kelima ya, Pak? (Dalam) Pancasila. Baik, singkat saja, Bu Suzie. Bu Suzie pilih yang mana, Bu? Apakah sama di antara Black Lives Matters atau All Lives Matter? Mau pilih apa? Citizens’ lives matters atau bagaimana?

Suzie Sudarman: Stop fake news. Stop fake news. Tidak ada, fake, Islam begini, komunis begitu, it’s just all fake. Dan kita harus sadar bahwa fakeness itu dimulai dengan Trump. Jadi, we have to beware, bahwa fake alternative facts itu adalah sesuatu yang didengungkan oleh seorang demagog, radikal, populis.

Beberapa Pertanyaan Trivia

Joko Susanto: Baik, menarik ini. Supaya kemudian tidak muncul politik identitas yang terlalu dipermainkan tadi, stop demagoginya dengan cara stop fake news-nya. Menarik, terima kasih, Bu. Pak Daniel, Ibu, tanpa terasa kita sudah melalui banyak menit bersama. Sebelum nanti kita berikan kesempatan pada pembicara untuk memberikan satu menit uraian penutup, izinkan kami mengemukakan beberapa pertanyaan trivia. Sebenarnya pertanyaan trivia ini sudah kita tanyakan tadi di awal pada survei peserta. Kalau peserta, mereka menjawabnya secara tertutup. Tapi karena (Bapak dan Ibu adalah) pembicara ini kan, jadi penting untuk kemudian diketahui posisinya. Baik, saya mau tanya dulu ke Pak Daniel. Singkat saja pak, pertanyaannya begini: apakah anda percaya bahwa kasus George Floyd adalah etalase dari krisis lebih besar yang melanda Amerika Serikat sebagai bangsa? Dalam pilihan “Ya”, “Tidak”, “Tidak tahu”, Pak Daniel di mana ini, Pak?

Daniel Dhakidae: Apakah anda percaya bahwa kasus George Floyd adalah etalase dari krisis lebih besar yang melanda Amerika Serikat sebagai bangsa? Saya pikir, ya.

Joko Susanto: Ya? Bu Suzie?

Suzie Sudarman: Ya, krisis institusi Amerika yang kurang memihak kepada orang-orang yang lemah.

Joko Susanto: Oke, baik. 78% responden kita menjawab “Ya”, kemudian 18% “Tidak”. Mereka mengisi sebelum mendengarkan Pak Daniel dan Bu Suzie, telepatinya ternyata lumayan nyambung. Sebelum ke slide yang kedua, saya akan bacakan pertanyaannya dulu: setelah kasus George Floyd, apakah anda masih percaya bahwa Amerika Serikat adalah bangsa yang multikultural dan kampiun demokrasi? Ada tiga pilihan yang kita berikan: “Ya”, “Tidak”, dan “Tidak tahu”. Pak Daniel? Masih percaya, Pak? Tadi nada-nadanya kok tidak ya?

Daniel Dhakidae: Oh, pasti (percaya), Amerika Serikat satu negara multikultural.

Joko Susanto: Masih percaya ya, Pak?

Daniel Dhakidae: Saya percaya dan bukan hanya percaya, itu kenyataan.

Joko Susanto: Kalau kampiun demokrasi, Pak?

Daniel Dhakidae: Demokrasi Amerika, walaupun dalam menghadapi krisis, mereka ada mekanisme untuk self-healing. Self-healing mechanism itu ada dalam demokrasi Amerika. Di sini, kan, tidak. Setelah krisis, hancur-hancuran. Tidak boleh hancur-hancuran.

Joko Susanto: Oke, berarti jawabannya “Ya” ya, Pak? Lalu kemudian Bu Suzie? Bu Suzie “Ya” atau “Tidak”, Bu?

Suzie Sudarman: Hukumnya kuat. Jadi, misalnya seseorang menderita diskriminasi, dia masih bisa menggunakan advokasi di dalam proses hukumnya.

Joko Susanto: Berarti “Ya”, masih percaya, karena sistemnya ya, Bu? Sekali lagi karena sistemnya. Menarik, karena ini berkaitan lebih dengan basis materiil, sistemnya, beliau berdua menjawab “Ya”. Coba kita lihat, responden kita tadi menjawabnya 60 persen “Tidak”, 33 persen “Ya”. Ini menarik, Bu. Tidak masalah, ini kan bukan soal ujian, tidak ada benar/salah di sini. Yang ketiga, kami bertanya pada responden: apakah anda percaya bahwa krisis Amerika Serikat terkait George Floyd merupakan reaksi balasan dari politik identitas yang diusung Trump dalam pemilihan presiden tempo hari? Jadi, tidak berdiri sendiri tapi berkaitan dengan yang diusung oleh Trump. Pilihannya “Ya”, “Tidak”, atau “Tidak tahu”. Pak Daniel?

Daniel Dhakidae: Ya.

Joko Susanto: Ya. Bu Suzie?

Suzie Sudarman: Ya.

Joko Susanto: Ya. Coba kita lihat hasil dari survei tadi. Dari survei tadi, yang “Ya” 63%, “Tidak” 25 persen, 13 persen “Tidak tahu”. Pertanyaan keempat, kami bertanya: apakah anda percaya bahwa pengalaman khas Amerika Serikat yang belum tuntas dalam berhubungan dengan perbudakan dan hak-hak kulit hitam berperan besar di balik berlarut-larutnya kasus George Floyd hari ini? Pak Daniel?

Daniel Dhakidae: Ya, saya pikir benar.

Joko Susanto: Pak Daniel menjawab “Ya”, Bu Suzie?

Suzie Sudarman: Ya.

Joko Susanto: Bu Suzie menjawab “Ya”. Kita lihat, 85 persen responden di EIP Forum kali ini menjawab juga “Ya”, 30 persen “Tidak”, dan 10 persen “Tidak tahu”. Nah, yang terakhir ini mungkin kita bisa berkaitan dengan di Indonesia. Ada dua pertanyaan: apakah anda setuju bahwa rasisme serupa tengah pula terjadi di Indonesia hari ini? Tadi sebagian sudah dibahas, tapi mungkin tinggal disimpulkan. Kemudian, dan apakah gerakan anti-rasisme serupa dengan yang ada di Amerika Serikat perlu secara langsung diadaptasi oleh kelompok-kelompok etnis atau agama di Indonesia setelah ini? Jawabannya: (a) “Ya dan perlu”; (b) “Ya tetapi tidak perlu”, tidak perlu diulang yang ada di (Amerika Serikat) gerakan-gerakannya; (c) “Tidak, tetapi terlu”, tidak sama tetapi perlu juga meniru mungkin untuk berjaga-jaga; (d) “Tidak sama dan tidak perlu”.

Daniel Dhakidae: Pasti tidak sama.

Joko Susanto: Oke, berarti “Tidak”. Lalu, perlu tidak (adaptasi gerakan-gerakan anti-rasisme di AS oleh kelompok-kelompok etnis dan agama di Indonesia)?

Daniel Dhakidae: Saya sangat tidak berpihak pada politik ras di situ.

Joko Susanto: Oke, berarti “Tidak dan tidak perlu”, Pak Daniel. Bu Suzie?

Suzie Sudarman: Sama, “Tidak dan tidak perlu”.

Uraian Penutup

Joko Susanto: Bu Suzie “Tidak dan tidak perlu”. Kalau kita lihat hasil survei kita, 40 persen mengatakan bahwa ya, sama, tetapi tidak perlu. 38 persen mengatakan bahwa ya, sama, dan perlu juga melakukan gerakan Black Lives Matter, kira-kira seperti itu, yang sama. Lalu kemudian 8 persen mengatakan “Tidak, tetapi perlu”, 5 persen mengatakan bahwa tidak sama dan tidak perlu. Menarik. Ya, apapun ini bukan soal benar/salah, ini adalah soal bagaimana kemudian persepsi yang berkembang di masyarakat, juga bagaimana kemudian hari ini kita membahas terkait dengan persoalan yang sama. Baik, berikutnya saya ingin berikan kesempatan satu menit saja, saya akan mulai dari Bu Suzie, untuk memberikan closing atau uraian penutup terkait diskusi kita hari ini. Satu menit, Bu Suzie.

Suzie Sudarman: Amerika bagus untuk (studi) komparatif, karena kita masih membutuhkan pembangunan institusi agar kesejahteraan bangsa itu terwujud secara adil.

Joko Susanto: Baik. Pak Daniel, uraian penutup?

Daniel Dhakidae: Ini sangat sulit untuk menutup. Tetapi begini, kalau dalam satu kalimat, bisa dikatakan yaitu bahwa jangan sampai masalah ras menjadi sesuatu yang berdarah-darah lagi di Indonesia.

Joko Susanto: Sudah, Pak Daniel?

Daniel Dhakidae: Sudah, itu saja. Itu jangan sampai masalah ras itu menjadi sesuatu yang meruntuhkan Indonesia.

Joko Susanto: Baik, terima kasih, Bu Suzie juga Pak Daniel. Saudara-saudara sekalian, akhirnya kita telah mendengarkan bersama uraian dan juga analisis yang luar biasa dari kedua pembicara. Tentu saja ada banyak hal yang diungkapkan, yang membuat usaha untuk meringkas menjadi sulit untuk bisa merepresentasikan semua yang sudah disampaikan tadi. Tapi baiklah, sekadar untuk menggarisbawahi, ada banyak hal yang mungkin bisa ungkap kembali. Bu Suzie mengingatkan bahwa Amerika menjadi satu contoh untuk kita belajar, walaupun bukan berarti apa yang terjadi di sana harus kita tiru begitu saja. Lalu kemudian Pak Daniel juga mengingatkan tentang adanya kaitan, ada suatu formasi, ada suatu kondisi struktural yang khas dalam beberapa hal. Walaupun ada kesejajaran, ada (juga) perbedaan. Kemudian penting menggarisbawahi juga bahwa Indonesia adalah bangsa yang kemudian sebenarnya melawan rasisme Belanda. Kalaupun ada perkembangan yang berbeda dalam kaitannya, itu tidak lantas kemudian menjadikan bahwa kita harus mengambil jalan yang sama dengan yang terjadi di Amerika tadi.

Ada banyak hal, paparan-paparan lain yang luar biasa, dan itu semua menjadi suatu asupan wawasan yang sangat-sangat luar biasa malam ini. Akhir kata, saya Joko Susanto sebagai mangkuwicara hanya bisa menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Daniel dan juga Bu Suzie atas segenap insight yang telah diberikan malam ini. Juga kepada segenap peserta yang telah dengan setia dan penuh semangat mengikuti diskusi ini. Mohon maaf tadi kita mulai agak terlambat, dan mohon maaf jika ada kurang lebihnya dalam penyelenggaraan kali ini. Terima kasih sekali lagi, semoga dalam diskusi EIP Forum berikutnya kita dipertemukan kembali. Saya Joko Susanto dari Emerging Indonesia Project mohon diri, hormat saya untuk anda semua, salam Indonesia Udaya.˜

Written by
EIP Forum

EIP Forum adalah seri seminar, konsultasi dan diskusi ahli terkait tantangan dan peluang kondisi emerging Indonesia. Tujuannya mendorong pengembangan wawasan dan pemahaman melalui pertukaran pandangan dan keterlibatan konstruktif pemangku kepentingan. Kegiatan itu dilakukan secara periodik maupun insidental, secara luring maupun daring melalui pendapa digital Aula Indonesia Udaya. Atas seijin narasumber, bagian terpilih dari rekaman dan transkrip diskusi nantinya dipublikasikan dalam seksi podcast di portal EmergingIndonesia.com.

View all articles
Written by EIP Forum

Kontak

Ikuti Kami

Dapatkan update berita, ulasan dan kegiatan kami dengan cara follow akun sosial media kami berikut ini.