Prolog atau Monolog? COVID-19, Rivalitas Baru AS-Tiongkok dan Konsekuensi Geopolitiknya

Meski tidak selalu berkait erat, dunia memiliki sejarah yang mencatat keterkaitan erat pandemi dan geopolitik. Hari ini, di tengah memanasnya rivalitas Amerika Serikat-Tiongkok terkait pandemi, perbincangan menyangkut dinamika rivalitas dan konsekuensi geopolitik dalam kaitannya tentu menarik untuk kita simak kembali.

FEATURED TRANSCRIPT-EIP FORUM 3 JUNI 2020


Narasumber: Dr. Dino Patti Djalal, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat 2010-2013, Founder Foreign Policy Community of Indonesia; Rene Pattiradjawane, Wartawan Senior Harian Kompas, Ketua Yayasan Pusat Studi China. Chair/Mangkuwicara: Joko Susanto, Direktur Eksekutif Emerging Indonesia Project/EIP. Transkrip: Demas Nauvarian, Indah Hikmawati, M. Aryo Rasil Syarafi. Waktu: Rabu, 3 Juni 2020, 21.00-22.00 WIB. Venue: Aula Indonesia Udaya, ZOOM pintasan.site/EIPForum3. Livestream Youtube Kanal Emerging Indonesia Project. Kutipan/Sitasi: EIP Forum, “Prolog atau Monolog? COVID-19, Rivalitas Baru AS-Tiongkok dan Konsekuensi Geopolitiknya”, Featured Transcript No. 3, Vol. 1, 3 Juni 2020, sebagaimana terdokumentasikan dalam tautan seri podcast berikut ini: https://emergingindonesia.com/2020/07/15/featured-transcript-eip-forum-no-3-vol-1/


Pandemi Global dan Rivalitas Baru

Joko Susanto: Selamat malam, salam Indonesia Udaya. Selamat datang di EIP Forum edisi kedua dengan tema “Prolog atau Monolog? COVID-19, Rivalitas Baru AS-Tiongkok, dan Konsekuensi Geopolitiknya”. EIP Forum adalah persembahan dari Emerging Indonesia Project, sebuah prakarsa yang bekerja bagi penajaman pemahaman dan kebijakan terkait transformasi Indonesia dari negara berkembang ke emerging country atau negara udaya. Emerging Indonesia Project/EIP adalah prakarsa yang dimotori beberapa akademisi hubungan internasional, FISIP, Universitas Airlangga, bekerjasama dengan mahasiswa (dan akademisi universitas lainnya). Tidak hanya terbatas pada akademisi, kami juga merangkul lebih banyak pihak untuk berbicara bersama terkait tantangan maupun peluang transformasi kita sebagai negara udaya.

Saudara-saudara sekalian, salah satu di antara tantangan itu adalah situasi pandemi, yang hari ini akan kita baca dalam kaitannya dengan aspek geopolitik. Menarik untuk mengingat bahwa antara geopolitik dan juga pandemi rupanya memiliki sejarah di masa lalu. Seratus tahun yang lalu, terdapat kaitan antara geopolitik pada Perang Dunia I dengan Flu Spanyol 1918-1919. Tentu saja kita tidak berharap pandemi kali ini juga akan menghasilkan perang sebagaimana delapan puluh hingga 100 tahun yang lalu. Tetapi penting kiranya mencermati apa yang terjadi belakangan ini, utamanya terkait memanasnya hubungan dua negara, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok. Menjadi suatu kesejajaran yang menarik bahwa pandemi ini juga berlangsung dalam konteks persaingan kekuatan, yang mengingatkan kita pada (konteks) seratus tahun yang lalu.

Saudara sekalian, di tengah terik pertarungan negara-negara terhadap pandemi COVID-19, rivalitas Tiongkok dan Amerika Serikat belakangan ini kembali memanas. Sebelumnya rivalitas kedua negara telah memanas melalui sejumlah konflik dagang. Tahun ini, rivalitas itu kembali memanas terkait pandemi Korona. Perang komentar terbuka dan melibatkan pimpinan teras kedua negara tak terhindarkan lagi. Presiden Donald Trump bahkan secara agresif mengusung isu inkompetensi Tiongkok dan menuduhnya sebagai penyebab utama “pembunuhan masal” penduduk dunia, sebuah serangan yang tentunya menusuk langsung upaya Tiongkok yang tengah mempromosikan diri sebagai model, inspirasi atau bahkan rujukan bagi negara-negara dalam penanganan pandemi. Saking panasnya persaingan kedua negara, The Spectator, salah satu media terkemuka, menggambarkan adu klaim tersebut sebagai corona war atau Perang Dingin Korona. Adu klaim terkait isu kompetensi ini kemudian juga membuka peluang terhadap persaingan di etalase sistemik tentang sistem mana yang lebih baik.

Selain menyeret kedua negara dalam adu jidat terbuka, adu klaim itu juga membuka perdebatan mengenai sistem politik mana yang paling efektif. Silang argumentasi, perang wacana, kedua negara adidaya dalam isu kompetensi ini mengingatkan sebagian orang pada perebutan klaim-klaim sejenis dalam Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pertanyaannya adalah: Apakah rivalitas baru yang memanas terkait dengan COVID-19 kali ini merupakan prolog bagi perang dingin Amerika Serikat dan Tiongkok yang lebih terbuka? Ataukah dia sekadar monolog kedua negara dalam mengalihkan perhatian dalam negeri yang meningkat karena pandemi? Ke mana gerangan kira-kira rivalitas baru itu akan mengarah nantinya? Sejauh mana situasi sulit pandemi turut mengakselerasi persaingan-persaingan sengit di antara kedua negara ke depannya? Konsekuensi-konsekuensi geopolitik apa yang bakal mengemuka? Dan langkah-langkah antisipasi apa yang perlu kita persiapkan dalam kaitannya?

Ini adalah rentetan dari pertanyaan yang bisa dimunculkan dalam kaitannya, –meski tidak terbatas terhadapnya. Malam ini kita beruntung karena ditemani pembicara-pembicara yang sangat kompeten. Ada Dr. Dino Patti Djalal. Beliau adalah founder Foreign Policy Community Indonesia atau FPCI. Sempat juga menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (dari beliau). Bersama kita juga hadir Bapak Rene L. Pattiradjawane, Jurnalis Senior Kompas. Pak Rene ini (punya) pengalaman luar biasa terkait dengan Tiongkok. Dari tahun 2004 hingga 2008 beliau menjadi Kepala Biro Hongkong (Kompas, red.), dan sekarang Ketua Pusat Yayasan Studi China Indonesia. Pak Rene sudah hadir bersama kita. Selamat malam Pak Rene.

Rene Pattiradjawane: Selamat malam.

Joko Susanto: Terima kasih sudah bergabung bersama kita. Pak Dino Patti Djalal saat ini sedang mengikuti suatu video conference yang sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan. Tetapi beliau sudah berjanji untuk kemudian nanti menyusul bersama kita. Mudah-mudahan di tengah (diskusi) nanti beliau bisa bergabung bersama kita. Karena itu, di kesempatan pertama ini, saya hendak memberikannya kepada Pak Rene untuk mengemukakan pandangan umumnya. Mungkin (kesempatan itu) tidak banyak, sekedar untuk mengungkapkan ulasan umum terkait beberapa hal (di atas), terutama terkait bagaimana sesungguhnya memaknai ketegangan baru AS-Tiongkok di tengah situasi pandemi ini.

COVID-19 dan Aspek Politiknya

Rene Pattiradjawane: Terima kasih telah menghadirkan saya di Aula Virtual ini. Ada beberapa hal yang perlu kita cermati dahulu. Pertama, bahwa penyakit Virus Korona yang disebut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization, red.) sebagai COVID-19 ini disebabkan oleh virus yang dinamakan sebagai SARS-COV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus-2), yang menandakan bahwa badan dunia (pun) tidak mengetahui secara pasti ini penyakit apa, karena berbeda dari ciri-ciri virus yang sudah dikenal sebelumnya, seperti SARS (severe acute respiratory syndrome, red.), MERS (Middle East Respiratory Syndrome, red.), dan lainnya. Virus ini pertama kali muncul di Wuhan, di Provinsi Hubei, dan tidak memiliki preseden sebelumnya; –agak berbeda dengan pandemi SARS 2002-2003 (yang) pertama kali muncul di Guangzhou, merebak di Hongkong, lalu menyebar di beberapa negara Tiongkok, namun tidak sampai menyebabkan kejadian pandemi dalam skala masif seperti yang sekarang kita hadapi.

Problemnya saya kira adalah bahwa penyakit baru ini untuk pertama kalinya berhasil melumpuhkan peradaban modern yang kita kenal, dan menyebabkan perubahan tata cara terkait ekonomi, politik, sosial-budaya. Semua bertekuk lutut. Kita tidak bisa lagi berintegrasi dan bersosialisasi secara terbuka seperti sebelumnya. Di sisi lain, banyak sekali negara –siapapun negara itu, baik negara besar maupun kecil– ketakutan. Dalam kepanikan dan ketakutan yang sangat ini, menyelamatkan diri sendiri adalah realitas (yang umum dipilih). Menurut saya ini menyakitkan. Tidak hanya dilihat dari kosongnya rak-rak di supermarket atau di rumah sakit, tetapi juga perilaku para pemimpin dunia, mulai dari Tiongkok, Eropa, hingga Amerika Serikat. Donald Trump melarang orang-orang Eropa masuk ke Amerika Serikat, dan berbicara soal “virus asing” yang berasal dari Tiongkok. Tiongkok juga ikut tidak bertanggung jawab dengan terlibat dalam suatu (polemik) konspirasi dengan menuduh virus SARS-Cov-2 ini diselundupkan dari Amerika Serikat ke negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia itu. Hari ini saya kira kita tidak akan masuk dalam polemik ini.

Yang ingin saya dorong adalah bahwa ini adalah sebuah fenomena baru. Yang mana tidak semua negara mengerti dan memahami apa yang terjadi. Semua kesepakatan- bilateral, regional, dan multilateral rontok dikarenakan virus ini. Kita tidak lagi berbicara satu sama lain secara terbuka karena ketakutan yang (amat) sangat. Jadi, pada klimaksnya, COVID-19 ini mungkin cocok dengan sebuah jargon yang terkenal pada tahun 1980-an yang disampaikan oleh Tip O’Neill, yaitu “all politics is local“. Bahwa semua politik, termasuk politik global, akan sangat terkait dengan politik domestik. Di sisi lain, kita juga mencoba memahami bagaimana sebenarnya sebuah virus bisa  menyebabkan dunia lumpuh. Sebuah buku dari David Quammen tahun 2012 (yang) berjudul Spillover: Animal Infections and the Next Human Pandemic memberikan contoh bagaimana suatu pandemi bisa membunuh seluruh keluarga ulat tenda (tent caterpillars/ Malacosoma Americanum) melalui virus patogen yang menghancurkan spesies ini secara masif.

Kalau kita lihat angka-angka statistik, ada ketakutan yang menyebabkan kita berpikir ulang. Ini yang antara lain menjelaskan mengapa suatu negara memilih menutup diri, dan akibatnya tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Saat ini, manusia terancam kepunahan karena penyakit COVID-19 ini, sama seperti ulat tenda. Memang Quammen dalam bukunya tidak menyebutkan relasi langsung patogen dengan kepunahan spesies ini, penelitiannya tidak bisa menjelaskan. Untuk jenis komunitas kritis, jumlah individu yang diperlukan untuk menahan infeksi penyakit menular yang disebut sebagai R0 ini juga tidak bisa dijelaskan. Kelompok ini dianggap sebagai senjata ampuh untuk melawan penyakit COVID-19. Masalahnya penyakit ini virusnya susah dideteksi. Ini yang akan menjadi kesulitan tersendiri.

Joko Susanto: Ini sangat menarik, kita akan berbicara lagi itu nanti. Kebetulan Pak Dino sudah bergabung dengan kita. Kalau boleh saya mau memberikan kesempatan ke Pak Dino, nanti akan kembali lagi ke Pak Rene. Selamat malam Pak Dino. Terima kasih sudah meluangkan waktu.

Faktor Domestik dan Internasional

Dino Patti Djalal: Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, terima kasih Pak Joko, Pak Rene sahabat saya. Terima kasih banyak bisa diundang, mungkin saya mulai dengan beberapa poin saja. Pertama, karena ini tahun 2020, sekarang ini segala sesuatunya disandera oleh pemilihan umum Amerika Serikat. Jadi, sekarang kalau kita hendak tahu apa yang dipikirkan Donald Trump, hanya satu, yaitu ia harus memenangkan pemilihan umum. Tadinya, ia memiliki senjata pamungkas yang luar biasa yaitu unemployment yang sangat rendah. Sewaktu saya di Amerika Serikat, kalau untuk mengetahui pemenang pemilihan umum Amerika Serikat itu mudah. Ada angka 7 persen unemployment (pengangguran), kalau ia bisa menekan angka pengangguran di angka 7 persen atau di bawah sedikit, seperti 6,5 persen, maka ia pasti terpilih. Tapi bila naik menjadi misal 9 persen atau 10 persen, ia pasti kalah.

Trump sebelum COVID-19, (angka) penganggurannya bukan 6,5 persen, 5 persen, atau 4 persen. Tetapi 3,5 persen! Jadi banyak orang terpana luar biasa. Meskipun Trump ini menyebalkan dan pembicaraannya ngawur terus, tapi pengusaha senang sekali dengannya. Dan, Amerika Serikat adalah negara kapitalis, negara pengusaha. Misal anda memiliki profit 1 juta Dolar AS atau 10 juta dollar, lalu ia pangkas pangkas pajak dari 30 persen menjadi 18 persen. Jadi kalau seseorang punya profit 100 juta Dolar AS, ia sudah mendapat 12 juta Dolar AS ekstra setiap tahunnya. Meskipun ia tidak suka Trump, tetapi ia akan tetap vote Trump. Sebab kebijakannya memberikan kebaikan bagi mereka. Inilah senjata pamungkas Trump. Tetapi semuanya buyar habis. Sekarang pengangguran di Amerika Serikat di atas 22 juta orang, sama dengan seluruh pekerjaan yang dihasilkan dalam 10 hingga 15 tahun terakhir.

Economic growth juga tidak mungkin (tumbuh) sekitar 3 persen seperti yang diharapkan orang. Dan Trump kehilangan dagangannya. Sangat mungkin ia akan kalah. Jangan lupa, pada 2016 lalu, dari jumlah suara ia sudah kalah dari Hillary (Clinton, red.). Namun, ia menang dari jumlah distriknya, sebab ada matematika politiknya di Amerika Serikat, meski Hillary memiliki jumlah suara yang lebih banyak. Apalagi ada kontroversi George Floyd yang terbunuh, dan ia dianggap tidak becus menanganinya, saya yakin kita akan melihat post-Trump America di tahun ini. Jadi ini menarik untuk dicatat, sebab post-Trump America berarti post-Trump world order, tata dunia paska-Trump, dan juga Amerika Serikat yang paska-Trump. Tidak 100 persen, mungkin saja ada surprise, namun bila saya ada uang saya akan bertaruh pada post-Trump America.

Kedua, mengenai Tiongkok. Sebelum ini, Amerika Serikat dan Tiongkok sudah tegang. Ada rivalitas yang luar biasa, Amerika Serikat merasa tempatnya sedang digoyahkan oleh Tiongkok. Tadinya ia merasa sangat nyaman sebagai super power satu-satunya dunia. Namun, sekarang makin banyak negara yang mulai berpaling dan “dipeluk” oleh Tiongkok. Padahal, super powernya masih Amerika Serikat. Ini membuat Amerika Serikat merasa sangat gundah. Tetapi dalam pemilihan umum ini, Trump akan lebih anti-Tiongkok sebab ia melihat Tiongkok sebagai scapegoat (Kambing hitam, red). Ia harus memiliki scapegoat, situasi memburuk, virus di mana-mana. Siapa yang diblame? Tentu Tiongkok. Sebab ia bisa bilang bahwa virus ini berasal dari Tiongkok. Apalagi bisa ditambahkan dengan teori konspirasi –misal– bahwa virus ini keluar dari laboratorium di Wuhan, dan sebagainya. Apalagi bila ia bisa menambah elemen mengenai Tiongkok yang bisa memicu nasionalisme Amerika Serikat. Jadi ini membuat hubungan Amerika Serikat semakin tegang dan menurun. Sebab, Trump melihat isu besar Tiongkok ini sebagai cara politis (yang menguntungkan) kepentingan dalam negerinya, yang nasionalismenya saat ini sedang ingin ia “goreng”.

Tetapi, juga perlu diketahui, (bahwa) saat ini tidak hanya Trump saja, tetapi (partai, red.) Demokrat juga semakin anti-Tiongkok. Dan bahkan spektrum politik di Amerika Serikat umumnya sekarang tidak friendly terhadap Tiongkok karena berbagai faktor. Ini satu hal yang berbeda dibanding sebelumnya. Dahulu agak ada perbedaan antara Republikan dan Demokrat. Sekarang keduanya sama-sama keras terhadap Tiongkok. Yang ingin saya tekankan juga adalah tidak ada keinginan dari Amerika Serikat, dalam hal ini Presiden Trump, dalam memainkan leadership role dalam dunia COVID-19. Karena faktor dalam negeri, dan slogan Trump adalah America first, me first. Orang yang berpikir America first akan sulit memainkan peranan leader di kancah global, sebab ia merasa ini tidak penting. Ini sayang sekali bagi dunia sebab dunia sedang benar-benar memerlukan leadership dari Amerika Serikat pada saat yang sangat kritis ini. Jadi mungkin itu dahulu komentar saya.

Joko Susanto: Baik, terima kasih Pak Dino. Kalau boleh saya tangkap, ada persoalan dalam negeri tetapi juga ada persoalan leadership. Ini menarik sekali, Nanti kita akan bicarakan lagi. Saya ingin kembali ke Pak Rene. Kalau dari Amerika Serikat seperti itu. Dari sudut pandang Tiongkok, respon terhadap kegusaran Amerika Serikat  bila digambarkan secara ringkas seperti apa kira-kira, Pak Rene?

Rene Pattiradjawane: Saya kira begini, memang di satu sisi, Tiongkok ini memiliki beberapa misi. Pertanyaannya adalah apakah Tiongkok memiliki kemampuan untuk menjadi negara yang besar, ditunjang oleh kemampuan teknologi dan jumlah penduduknya yang besar. Ini yang menjadi salah satu isi dari buku Kishore Mahbubani, Has China Won? Saya kira, satu-satunya bangsa yang menjadi penghalang adalah Amerika Serikat, sebab Amerika Serikat dilihat oleh Tiongkok sebagai declining power di semua bidang: politik, keuangan, ekonomi, perdagangan, kecuali militer. Ini yang menurut saya menyebabkan permasalahan leadership Amerika Serikat. Ia menarik garis antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Garis ini ditarik di laut. Salah satu yang menurut saya akan menjadi titik panas yang perlu kita antisipasi adalah Laut Tiongkok Selatan, sebab Amerika Serikat benar-benar menarik garis. Garis inilah yang akan menyebabkan konflik-konflik yang tidak diinginkan. Sehingga tuduhan-tuduhan bahwa diplomasi Tiongkok koersif –termasuk bila mereka memainkan strategi baru yang disebut sebagai world war diplomacy— adalah suatu refleksi. Jangan-jangan negara barat melihat bahwa (pendekatan) Tiongkok sangat-sangat koersif, dan Tiongkok menanggapinya bahwa itu adalah bagian dari upayanya menjadi great power of the world.

Joko Susanto: Pak Rene, tadi Pak Dino menyatakan bahwa respon Amerika Serikat yang agresif terhadap Tiongkok terkait COVID-19 bila digambarkan secara ringkas adalah perpanjangan dari persoalan atau faktor domestik, –meski ada juga kaitannya dengan faktor sistemik yakni absen-nya kepemimpinan internasional atau the lack of leadership. Apakah respon Tiongkok yang turut memanaskan hubungan kedua negara terkait COVID-19 kali ini juga didrive oleh dinamika persoalan atau faktor domestik yang sama?

Rene Pattiradjawane: Ada pandemi atau tidak pandemi, situasinya akan sama.

Konsekuensi Bagi Indonesia

Joko Susanto: Baik. Saya akan coba kembali ke Pak Dino. Kalau bisa saya tangkap, ada masalah domestik mendekati pemilu, yang membuat posisi Trump menjadi agak sulit, sebab COVID-19 merusak beberapa hal yang sudah ia capai. Selain memperparah soal lack of leadership tadi, konsekuensi-konsekuensi geopolitik apa kira-kira yang mungkin akan terjadi dan harus ditanggung kawasan (Asia Pasifik) terkait ketegangan yang meningkat ini?

Dino Patti Djalal: Kalau konsekuensi, jelas kita akan terus melihat rivalitas. Bila kita berbicara kompetisi, ini suatu hal yang normal. Bila kita baca National Security Doctrine Amerika Serikat, di setiap paragraf ada kata kompetisi dan Tiongkok. Ini bagian dari mentalitas Amerika Serikat yang kompetitif dalam segala aspek. Tetapi yang berbeda adalah ada rivalitas yang dibarengi dengan insekuritas. Kalau kompetisi saja, fine, Indonesia juga berkompetisi. Namun ada rivalitas yang bersifat zero-sum game di mana ‘saya harus menang dengan anda kalah’– dan dibarengi dengan kegelisahan (di mana) ‘saya tidak mau dilewati Tiongkok’. Ini menjadi bagian dari American strategic culture. Hal ini membuat negara-negara lain menjadi memilih (di antara keduanya). Amerika Serikat pernah menyatakan, pada tingkat tertinggi, Amerika Serikat tidak ingin membuat negara-negara Asia memilih di antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Pada saat itu saya tepuk tangan, that’s what I want to hear.

Namun di saat ini, orang semakin tidak enak bila tidak berpihak. Dalam artian bila ada sesuatu, orang semakin tertekan untuk mengambil salah satu garis di antara dua raksasa ini. Ini membuat diplomasi Indonesia semakin tricky. Mengapa? kita dituntut untuk semakin memiliki sikap (stance), tidak hanya untuk mengambil safe distance di antara keduanya, tetapi juga kita harus mengambil posisi yang tepat. Bila kita harus berbicara keras pada Tiongkok, kita berbicara pada Tiongkok. Bila kita perlu berbicara keras pada Amerika Serikat, kita juga tidak perlu ragu. Namun yang saya lihat, tarik-menarik ini akan semakin keras, apalagi setelah pemilihan umum berakhir di Amerika Serikat, siapapun yang menang, baik Trump maupun Biden. Tarik-menarik ini akan semakin keras menurut saya.

Calibrated dan Principle Response

Joko Susanto: Baik, menarik tadi Pak Dino langsung mengaitkannya dengan kemungkinan bagi Indonesia. Saya tadi mau tanya itu. Ini menarik. Pertanyaannya, kalau mau disampaikan dalam bahasa yang ‘singkat’ begitu, kira-kira apa ya kata yang tepat? Konsep apa kira-kira yang bisa diketengahkan? Apakah hedging atau apa? Supaya kemudian kita punya satu vocabulary yang mudah untuk menggambarkan (posisi kontemporer kita terkait itu). Apakah kita cukup dengan konsep bebas-aktif saja, atau perlu konsep tambahan lagi (sebagai turunannya)?

Dino Patti Djalal: Mungkin begini. Oke, mungkin istilah tepatnya—that’s an interesting question—ada dua. Pertama, calibrated response.

Joko Susanto: Calibrated response?

Dino Patti Djalal: Ya. Yang kedua, principled response. Callibrated response itu esensi diplomasi yang diajarkan ayah saya.  Artinya begini, kalau kita lagi marah sama Amerika, jangan marah terus. Kalau kita baik sama Tiongkok, jangan baik terus, begitu.

Joko Susanto: Itu mungkin yang orang Jawa bilang, Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu Ya Begitu Tetapi Jangan Begitu, red).

Dino Patti Djalal: Nah, benar! Karena begitu kita baik terus, kita akan di-own (dimiliki), oleh negara itu, ya kan? Dianggap sepele, begitu. Jadi ada calibrated response, di mana kita bisa merespon sesuai tuntutan keadaan tanpa sedikitpun merasa risih. Kenapa ini penting, Pak Joko? Karena orang Indonesia itu budayanya adalah sungkanan. Tidak mau menyinggung perasaan orang. Ya kan?

Joko Susanto: Betul, betul.

Dino Patti Djalal: Nah, jadi itu kalau di luar, (dalam) diplomasi itu harus kita kikis sedikit demi sedikit. Tapi yang kedua juga (penting) ini, Pak Joko. Mengenai principled response. Sekarang ini di dunia internasional, dalam rimba yang sangat membingungkan ini, semakin sulit kita menentukan arah ke depan. Karena masalah prinsip makin tidak dipegang dan banyak yang terlalu pragmatis dengan kepentingan nasionalnya. Sehingga, banyak perbenturan yang terjadi. Banyak double standard dan lain sebagainya. Nah, Indonesia idealnya tetap menjadi negara di mana kita tetap mempunyai prinsip yang jelas. Dan kita tetap ingin berjuang terhadap prinsip yang jelas itu. Saya ingat, yang paling nyata itu waktu Perang Irak.

(Waktu) Amerika Serikat memasuki Irak, kita dirayu habis. Saya ingat karena waktu saya masih di Renstra (?) Amerika, ya. Dirayu habis dan kadang-kadang ditekan habis agar mendukung Amerika masuk ke Irak. Agak susah waktu itu karena hubungan kita (lagi) dekat dengan Amerika, apalagi setelah 9/11 dan sebagainya. Tapi (dukungan itu) tidak mungkin karena ini masalah prinsip. Akhirnya Amerika masuk, dan terjadi segala kekacauan yang sampai sekarang masih ada. (Berkat principled response itu) kita bisa tenang melihat sejarah dan menyatakan, “kita tidak menjadi bagian dari itu.” Itu sebab kita menentang invasi Amerika di Irak (waktu itu). Karena itu masalah prinsip. Dan akibatnya, kita berada in the right place of history.

Joko Susanto: Baik. Terima kasih, Pak Dino. Saya kira sangat clear sampai di sini. Teman-teman sekalian, setelah ini kita akan masuk ke dalam sesi tanya jawab peserta. Kita membuka kesempatan bertanya. Anda silakan bertanya melalui fasilitas chat di Zoom. Boleh juga bertanya melalui YouTube. Selain di Zoom, kita juga livestream di YouTube. Kemarin yang mendaftar banyak sekali, beberapa tidak masuk, kita alihkan ke YouTube. Sebelum kemudian kita masuk ke dalam pertanyaan teman-teman, saya ingin sedikit kembali ke Pak Rene. Pak Rene, masih bisa didengar ya, Pak?

Rene L. Pattiradjawane: Ya, ya.

Multilateral Coexistence

Joko Susanto: Pak Rene, tadi Pak Dino telah meringkaskan dengan sangat baik beberapa tantangan dan juga pilihan yang mungkin bisa kita ambil dalam kaitannya. Ada calibrated response. Ada principled response. Apakah Pak Rene juga dalam pandangan yang sama terkait tantangan dan pilihan situasinya?

Rene L. Pattiradjawane: Saya kira begini, apapun yang akan terjadi setelah meredanya COVID-19 ini, kehidupan internasional itu tetap merupakan jenis kompetisi buta. Apalagi kalau Trump menang. Indonesia, saya kira, membutuhkan Amerika dan juga membutuhkan Tiongkok. Tapi apakah kita membutuhkan Trump atau tidak? Saya tidak yakin bahwa kita membutuhkan Trump, tapi Trump itu ada. Kita harus tunggu, hasil pemilunya seperti apa. Problemnya adalah, saya kira, segala bentuk pemerintahan dunia dalam upayanya menegakkan aturan dan norma, –apakah itu kekuatan besar ataukah kekuatan menengah– sulit untuk saling percaya.

Membangun kepercayaan itu tidak mudah. Kita mulai dengan perjuangan tentang Asia-Afrika dan Non-Blok. Semangat itu ada, sehingga konsepsi yang namanya peaceful coexistence itu bisa muncul dan bertahan cukup lama, termasuk ketika Perang Dingin. Peaceful coexistence, koeksistensi damai ini, hidup terus. Mungkin sudah waktunya juga bagi Indonesia –yang selama ini dikenal memiliki pemikiran diplomasi– untuk ikut menentukan ketertiban dunia, mencoba menggali kembali arah yang saya sebut sebagai multilateral coexistence. Multilateralisme (di mana) tidak harus semua orang terlibat. Masing-masing memiliki kepentingannya sendiri.

(Koneksi Pak Rene terputus)

Alam Pikiran Tiongkok

Joko Susanto: Terputus ya, Pak Rene. Baik, sambil nanti menunggu Pak Rene terhubung kembali, saya tadi diinformasikan bahwa bergabung di sini ada juga Mas Kankan. Mas Kankan Xie adalah dosen dari Peking University. Tadi saya dikonfirmasi bahwa Mas Kankan bersedia untuk memberikan respons singkat saja. Silakan, Mas Kankan.

Kankan Xie: Saya sangat setuju dengan Pak Dino tadi, dan saya rasa kalau melihat dari segi politik domestik, Pemerintah Tiongkok juga harus menjaga kepentingan domestik terkait COVID-19. Karena ada banyak pembicaraan di Tiongkok tentang apakah pada tingkat awal pemerintah cukup transparent, serta apakah sebelum COVID-19 sudah ada persaingan memanas antara Tiongkok dengan Amerika Serikat terkait perang dagang. Jadi, itu juga seperti apa yang Pak Dino sudah bilang, (bahwa) itu tantangan (yang sudah ada sejak) sebelum COVID-19. Dan pemerintah Tiongkok pasti sudah merasa(kan) tekanan pihak Amerika Serikat (sejak itu). Sebagai akibatnya, perseteruan yang memanas terkait COVID-19 ini sangat menekan pemerintah Tiongkok untuk membalas dengan cepat. Jadi, saya rasa ini satu tantangan, tapi pemerintah Tiongkok juga mengambil itu sebagai suatu kesempatan.

Joko Susanto: Pak Kankan, mohon maaf saya potong. Ada dua hal yang mengemuka kalau bicara tentang Tiongkok sekarang. Yang pertama, ada yang berpandangan bahwa reaksi Tiongkok terhadap kegusaran Amerika ini dalam beberapa hal tidak juga sama baiknya, kadang-kadang dia juga defensif. Seperti contoh ketika Amerika Serikat menuduh Tiongkok, Tiongkok datang dengan begitu banyak laporan yang isinya defensif semua. Apakah anda setuju bahwa itu juga defensif? Yang kedua, orang banyak merasa bahwa Tiongkok berusaha memanfaatkan momentum ini ketika Amerika ini sedang kerepotan dan tidak bisa mengambil leadership, (seperti) yang tadi disampaikan Pak Dino. Apakah memang ada rencana skematik dari Tiongkok untuk memanfaatkan momentum ini untuk mengambil alih leadership, setidaknya secara moral dulu lah, walau belum dalam kaitan power and wealth? Bagaimana menurut anda bagaimana?

Kankan Xie: Kalau saya melihat, pandemi ini memang tidak bisa dikontrol. Pada mulanya Tiongkok memang negara yang satu-satunya mengalami pandemi ini. Itu pada bulan Januari dan Februari, situasi di sini sangat buruk. Pada waktu itu, saya rasa sudah ada krisis domestik, tapi mungkin reaksi pemerintah Tiongkok itu cukup cepat dan sekarang itu menjadi suatu kesempatan. Kalau melihat balik ya, saya rasa ini tidak ditentukan dulu dan sekarang mereka mengambil situasi ini sebagai kesempatan. Ah, maaf ya kalau saya tidak cukup lancar.

Joko Susanto: Baik, terima kasih.

Dino Patti Djalal: Saya bisa komentar sedikit tidakya?

Joko Susanto: Ya, ini memang waktunya ke Pak Dino. Silakan, Pak.

Dino Patti Djalal: Ya, oke. Kalau menurut saya, dari sisi Tiongkok ada dua motivasi yang saya baca. Satu, motivasinya adalah karena virus ini kebetulan muncul dari wilayah Tiongkok yaitu Wuhan, yang kemudian menyebar ke luar, dan membuat repot banyak negara-negara lain. Pemerintah Tiongkok merasa ikut bertanggung jawab, ingin menunjukkan bahwa, “Look, kita responsible, lho. Kita ingin juga membantu kalian yang terkena virus yang kebetulan bermulanya dari wilayah kami.” Jadi, ada unsur itunya. Mereka ingin menghindari kesan (bahwa) mereka seolah masa bodoh begitu virus itu keluar. So, it’s a good willing ya. Dan kedua, kalau menurut saya, dari sisi practical politics, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka lebih bisa diandalkan dari Amerika Serikat, –walau Tiongkok mungkin tidak akan mengakui ini. But again, dengan langkah-langkah yang mereka lakukan, mereka ingin menunjukkan, “Hei, dari dulu kan saya bilang bahwa kami adalah negara kawasan yang bisa diandalkan. Kalau ada masalah, kami akan selalu membantu. Nah, ini buktinya, dan kami membantu anda lebih daripada Amerika Serikat membantu anda,” begitu. Jadi, saya kira ada faktor motivasi itunya, yang tentunya tidak mungkin diakui oleh mereka.

Ambisi Kepemimpinan dan Pergeseran

Joko Susanto: Masalahnya, Pak Dino, justru dalam kaitan tiga hal itu (Amerika Serikat absen). Yang pertama kan Tiongkok ingin –kalau saya tangkap dari penjelasan Pak Dino– menunjukkan semacam dedikasi atas kepentingan bersama setelah dia kemudian menjadi sumber sebab (pandemi) tadi. Kemudian dia juga menunjukkan bahwa dia punya prakarsa responsif, dan dalam banyak hal dia juga punya legitimasi sistemik karena dianggap lebih sukses. Masalahnya tiga hal itu adalah tiga hal yang nantinya bisa jadi modal penting kalau mau take over leadership ini, selain tentunya soal wealth dan power tadi. Kalau kita bicara artikelnya Kurt Campbell  dan Rush Doshi di Foreign Affairs itu, tiga itu salah satu yang tidak dimiliki oleh Amerika Serikat saat ini, tapi kemudian sekarang sedang dicoba oleh Tiongkok. Kalau seperti ini prospeknya bagaimana?

Dino Patti Djalal: Begini, kalau dari segi saya, kita kan bukan negara major power ya. Indonesia kan middle power. Kalau saya tidak ada masalah melihat Tiongkok menjadi a world leader. Mengapa? Karena siapa yang bisa men-stop Tiongkok? Dan ini bagian dari sejarah, selalu ada great power yang naik dan turun. Kalau the next great power itu adalah Tiongkok, by all means, itu menjadi fakta sejarah. Ya kan? Dan saya juga merasa Asia Pasifik itu, atau Indo Pasifik, is big enough for America, for Tiongkok, for Japan, for ASEAN, for Indonesia, untukmasuk dan berlaga di medan itu. Jadi, it’s big enough lah, kawasan kita, untuk menampung dinamika semua kekuatan ini. Yang penting, cara mereka bersaing dan berinteraksi itu memang ke depan perlu kita tata dalam suatu penataan kawasan yang konstruktif. Sekarang ini masih tidak monolitik, terlalu banyak orde-orde kawasan yang ada tapi that’s part of the strategic reality at the moment.

Joko Susanto: Baik, terima kasih, Pak Dino. Ini ada pertanyaan menarik dari peserta Zoom. Ini saya bacakan, dari Mas Muhammad Ridho Iswardhana, dari prodi Hubungan Internasional UTY. Pertanyaannya adalah, apakah rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok menyebabkan pergeseran tata kelola global dan memungkinkan adanya pergeseran itu?

Dino Patti Djalal: Jadi begini, pertama, kita perlu mengantisipasi, (kemungkinan) kita kembali ke dalam dunia dua superpower. Mengapa? Karena dalam 20 tahun terakhir kita hidup, –bukan 20 tahun, mungkin 30 tahun terakhir– kita hidup dalam dunia satu power, yaitu hanya Amerika Serikat. Dan I think, dalam 20-30 tahun ke depan kita akan kembali hidup dalam dunia dua superpower, yaitu Amerika dan Tiongkok. Kita perlu menyesuaikan pada realita strategis seperti itu. Bedanya apa? Bedanya kalau Amerika punya sistem aliansi yang ke mana-mana, –di NATO, di Asia Timur ada, di Asia Tenggara juga ada–, Tiongkok tidak punya sistem aliansi. Makanya, the most important question bagi saya, Pak Joko, adalah apakah dalam waktu ke depan, Tiongkok juga akan membentuk suatu aliansi? Kalau ini terjadi, then it’s gonna be the most important strategic development in our region. Mudah-mudahan tidak ya, karena kita, kawasan ini, tidak butuh aliansi-aliansi-an. Bahkan we need less of those, begitu ya.

Masa Depan ASEAN dan Indo-Pasifik

Joko Susanto: Baik. Ini ada juga pertanyaan terkait dengan ASEAN, mumpung tadi Pak Dino bicara soal ASEAN. Dari Mas Muhammad Iqbal, tapi saya kurang tahu dari mana (beliau) ini. Bagaimana pengaruh persepsi ASEAN melalui dokumen ASEAN Outlook on Indo-Pacific menempatkan Tiongkok dalam domain engagement economic axis dari pada threat deterrent axis terkait dengan perkembangan Indo-Pasifik? Bagaimana ASEAN harus bersikap dalam situasi seperti itu, Pak?

Dino Patti Djalal: Jadi begini, ASEAN telah mengambil langkah yang tepat, tidak buru-buru masuk ke ranah Indo-Pasifik ketika Amerika atau Presiden Trump mengusung itu. Kan waktu itu ada Quad, ya, Amerika, Jepang, India, Australia, Quad yang mendukung Indo-Pasifik. Dan mereka mengajak Indonesia jadi Quad+1 waktu itu, right? Tapi, Indonesia alhamdulillah tidak terpancing, tidak buru-buru. Mengapa? Karena Indonesia kalau ikut ke dalam Quad itu berarti Indonesia meninggalkan ASEAN, ya kan? Jadi, Indonesia bersabar mengajak ASEAN untuk merumuskan posisi bersama dan akhirnya timbullah ASEAN Outlook on Indo-Pacific. Masalahnya apa? Masalahnya Tiongkok masih tidak suka sama Indo-Pasifik. Mereka telah menyatakan hal ini dalam berbagai cara. Kalau Indo-Pasifik mau efektif, akan sulit tanpa keikutsertaan Tiongkok. Karena tidak mungkin skema regional itu bisa langgeng, bisa efektif, dan bisa bermanfaat kalau salah satu negara terbesarnya memunggungi skema regional Indo-Pasifik itu.

Joko Susanto: Walaupun dalam konsep baru Indonesia, Indo-Pasifik itu termasuk inklusif juga (melibatkan) Tiongkok ya, Pak?

Dino Patti Djalal: Tentu. Ya, kita maunya begitu, tapi sampai sekarang Tiongkok masih mencurigai dan tidak nyaman dengan konsep Indo-Pasifik. Mungkin ini hanya posisi sementara, kita tidak tahu. Kita harus lihat dulu ya.

Water-Testing dan Beggar-Thy-Neighbour

Joko Susanto: Baik, ini mumpung Pak Rene sudah bisa gabung lagi, saat ini ada pertanyaan dari Ariesani Hermawanto. Pertanyaannya apakah perseteruan yang memanas terkait dengan AS-Tiongkok dalam COVID-19 ini permainan konflik semu semata? Adakah kemungkinan kedua negara sedang memainkan power epicentrum yang mengarah pada strategi testing the water? Apakah permainan semu atau testing (the) water saja?

Dino Patti Djalal: Antara siapa, nih? Yang testing apa, nih?

Joko Susanto: Situasi yang memanas terkait COVID ini, Pak. Situasi yang memanas terkait COVID ini. Ini ada yang menganggap ini adalah testing the water, begitu. Jadi, menurut Ariesani Hermawanto ini. Ini Pak Rene belum bisa gabung, ya? Belum?

Rene L. Pattiradjawane: Bisa, bisa.

Joko Susanto: Silakan, Pak Rene. Pak Rene, ini ada yang menganggap ini hanya testing the water saja ini, belum yang seluruhnya ini. Betul kah ini seperti ini? Soalnya tadi menurut Pak Rene sudah panas jauh sebelum COVID. Bagaimana pak?

Rene L. Pattiradjawane: Ya, kan begini. Kalau mau melihat (secara menyeluruh) rivalitas ini kan bukan (hanya) karena COVID ini. Tapi memang dari (masa yang lebih) awal, mungkin sejak masa kepresidenan Obama. Komplain pertama antara Amerika dan Tiongkok itu menyangkut tentang neraca perdagangan. Ketidakseimbangan neraca perdagangan ini dianggap mengganggu kepentingan Amerika Serikat. Berikutnya adalah (terkait) perubahan daya kepemimpinan, –kepemimpinan AS dan kepentingan Tiongkok– yang akan sangat menentukan arah geopolitik global. Sejak Perang Irak sampai Afghanistan, Amerika Serikat selalu menganut yang namanya sistem traditional priviledge sebagai tonggak untuk menentukan tata kelola dunia dalam perspektif rules-based order. Di sisi lain, saya kira, Tiongkok melihat Amerika itu, di luar kemampuan militernya, itu adalah (sebagai) sunset power. Dan ketiga, saya kira, problemnya (berkaitan) dengan pola pemikiran politik Tiongkok. Sejauh ini, terkait masalah tata kelola dunia, mereka itu selalu menganggap bahwa kekuatan baru itu hanya bisa tumbuh dan berkembang ketika kekuatan lama itu hancur. Dan ini kan yang dilakukan oleh Tiongkok, misalnya, mulai dengan periferinya, mulai dengan OBOR-nya, mulai dengan segala macam. Memang baik Amerika dan Tiongkok tidak menduga akan ada pandemi sekelas ini.

Nah, kekhawatiran saya adalah, ketika negara-negara besar seperti Amerika dan Tiongkok bermain di tengah-tengah krisis ini, saya kok melihat ada upaya untuk menerapkan apa yang namanya beggar-thy-neighbour policy, yang memiskinkan negara-negara yang dianggap ber-potensi akan menjadi penghalang, salah satunya adalah Indonesia. Kalau melihat statistik yang dikeluarkan oleh para analis ekonomi dunia, Indonesia itu akan menjadi sebuah kekuatan baru. Ini kan harus dipastikan bahwa dia tidak menjadi penghalang terus. Saya kira ini yang bisa saya sampaikan.

Antara Cold War dan Hot Peace

Joko Susanto: Baik, terima kasih. Ada banyak pertanyaan, dari Zoom maupun dari YouTube. Karena itu saya mohon izin, karena tadi kita mulai agak terlambat, mungkin kita akan selesai agak lewat dari pukul sepuluh, supaya beberapa pertanyaan kita bisa bahas. Saya akan coba ambil pertanyaan dari YouTube. Ada pertanyaan menarik dari Mas Syukron Subkhi, dari UPN Veteran Jogjakarta. Kalau yang tadi itu dari Universitas Teknologi Yogyakarta. Barusan saya diingatkan, mohon maaf tadi (tidak tahu singkatannya). Mas Syukron Subkhi bertanya apakah relasi Amerika Serikat dan Tiongkok yang memanas pasca COVID ini dapat dikategorikan sebagai hot peace? Saya akan ke Pak Dino dulu saja. Ini cold war atau hot peace, Pak Dino?

Dino Patti Djalal: Sebetulnya justru kami dari FPCI sudah menggunakan term hot peace itu sebagai judul utama Konferensi Indonesian Foreign Policy (CIFP) tahun lalu, dan kami percaya itu bahwa ini Perang Dingin baru, dan agak beda dari Perang Dingin, dan jelas beda dari Perang Dunia Kedua, dan ini bisa dinamakan sebagai hot peace. Jadi perang ketiga, tapi diwarnai oleh rivalitas, persaingan yang zero-sum game, low strategic trust, dan lain sebagainya. Dan sebetul-nya ini justru membuat suatu pertanyaan sejarah yang besar bagi Indonesia, yaitu tahun 60-an ketika ini terjadi, kita mempunyai respons. Yaitu apa? Non-alignment. Ya kan? Gerakan Non-Blok. Kita buat waktu itu bersama Yugoslavia, Mesir, Ghana, dan lain sebagainya di tahun 1961. Sekarang pertanyaannya adalah, dengan kembalinya situasi hot peace ini, respons Indonesia apa? Non-blok di abad ke-21 itu apa sekarang itu wujudnya?

Joko Susanto: Sebelum ke respons Indonesia, Pak Dino, mohon maaf saya potong. Yang mengikuti acara ini kebetulan juga dari berbagai macam ragam, mungkin bisa dibantu, seberapa dekat atau seberapa jauh sebenarnya hot peace ini dari posisi cold war atau Perang Dingin? Orang kan ingatnya Perang Dingin antara Soviet dan Amerika. Nah, kalau yang tadi disampaikan Pak Dino, hot peace itu seberapa dekat dengan posisi Perang Dingin itu? Apakah kita sudah di pintunya? Atau sudah masuk di ruangannya, atau bagaimana, Pak?

Dino Patti Djalal: Mirip tapi beda, begitu ya. Jadi kalau dulu itu kan dunia benar-benar terpecah dalam dua blok, dan di luarnya ada negara-negara yang non-blok. Tapi benar-benar ada dua sistem ekonomi yang berbeda. Kalau di sini kan lain, sekarang ini Amerika dan Tiongkok tetap saling ketergantungannya tinggi dan saling terbuka, ya kan? Dan banyak negara-negara seperti Indonesia, yang dekat dengan Amerika tapi juga dekat dengan Tiongkok. Bahkan, negara-negara sekutu Amerika, termasuk Australia, misalnya, itu lebih banyak berdagang dengan Tiongkok daripada dengan Amerika, begitu ya. Tapi ketegangan dan rivalitas dan mistrust itu sangat tinggi, begitu, dan bisa meletup di mana-mana, juga ada ekspresinya dalam proxy war. Dan jangan lupa, ini bukan hanya dengan Amerika-Tiongkok, ya, tapi Rusia juga bagian dari ini, terutama di Eropa dengan Ukraina dan sebagainya, begitu. Jadi situasi yang tidak damai, tidak perang, tapi sangat diwarnai oleh ketegangan dan rivalitas yang tidak sehat.

Leadership Test dan Defining Moment

Joko Susanto: Baik, ini saya akan coba ambil lagi pertanyaan dari YouTube. Dari Lintang Bening dan Yeremia Nicolaus dari Universitas Airlangga. Apakah post-Trump world order atau pulihnya ekonomi Tiongkok pasca-COVID-19 ini akan membuka jalan bagi Tiongkok untuk menjadi negara superpower baru? Kalau boleh saya pertajam, apakah ketegangan di dalam situasi pandemi ini akan menjadi game changer, Pak? Orang bilang ini sekadar leadership test, tapi ataukah ini bisa lebih dari itu? (Apakah) ini bisa menjadi game changer, begitu, yang kemudian bisa mengubah banyak hal? Sama seperti kemudian ketika Inggris angkat tangan terkait dengan Krisis Yunani, atau kemudian yang lain, ini bisa menjadi perubahan. Pak Rene apakah bisa (menjelaskan) ini? Kira-kira ini leadership test atau game changer ini, Pak, situasi pandemi kali ini, Pak? Sebelum nanti ke Pak Dino, Pak Rene?

Rene L. Pattiradjawane: Saya kira, Donald Trump dan Xi Jinping sama-sama baru dalam mengurus persoalan dunia. Memang ada leadership test tentang siapa yang lebih kuat. Namun saat ini, terdapat persaingan untuk menghasilkan vaksin guna meredam pandemi yang sedang berlangsung. Pada titik tertentu, Amerika Serikat dan Tiongkok harus bekerja sama untuk menghasilkan vaksin bagi 6,7 miliar orang agar tidak terancam oleh pandemi.

Joko Susanto: Baik. Lalu bagaimana menurut Pak Dino?

Dino Patti Djalal: Pertama, saya yakin bahwa pada dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan, jika orang-orang melihat ke belakang, maka mereka akan melihat COVID-19 sebagai defining moment. Hal ini berarti bahwa COVID-19 menjadi krisis global yang demikian luar biasa, sehingga orang akan bertanya tentang tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Tiongkok pada waktu itu. Mungkin juga mereka akan bertanya tentang tindakan yang telah dilakukan oleh Jepang dan negara-negara lainnya. Dengan demikian, COVID-19 tetap menjadi historical milestone untuk melihat tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat dan Tiongkok.

Kedua ialah mengenai kemungkinan Tiongkok menjadi superpower dan kaitannya dengan post-Trump Order. Menurut saya, apa pun yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Tiongkok akan menjadi superpower. Memang demikian aliran sejarah Tiongkok, tidak peduli siapa pun Presiden Amerika Serikat. Tiongkok akan menjadi kekuatan superpower yang mempunyai demografi, militer, dan ekonomi yang besar, mungkin lebih besar dari Amerika Serikat; teknologi yang canggih; serta kelas menengah yang maju. Tiongkok bahkan memiliki ambisi pada tahun 2050 untuk menjadi moderately prosperous society.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi tentang kemungkinan Tiongkok untuk menjadi superpower, karena hal tersebut merupakan suatu keniscayaan. Akan tetapi, pertanyaannya adalah: “Apakah Amerika Serikat dan Tiongkok akan mencapai akomodasi strategis?” Apabila terjadi, apa circumstances-nya? Mengingat bahwa Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok pernah mencapai akomodasi strategis pada tahun 1990-an. Ketika Uni Soviet runtuh, mereka melakukan kerja sama di Perang Kuwait. Namun kerja sama tersebut hanya bertahan sekitar 10 tahun-an. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa persoalan yang penting saat ini adalah kemungkinan tercapainya akomodasi strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, beserta faktor-faktor yang dapat mendorong mereka untuk mencapai akomodasi strategis.

Deglobalisasi dan Populisme

Joko Susanto: Terima kasih, Pak Dino. Ini ada pertanyaan menarik dari Pak Benny Setianto, partisipan yang mengikuti EIP Forum melalui Zoom, tentang menguatnya populisme. Pada pengalaman flu di Spanyol sekitar 100 tahun yang lalu, memang menimbulkan tekanan dalam negeri. Namun yang terjadi di Jerman, justru kemudian membiakkan populisme dan mengurangi globalisme. Menurut Pak Dino, apakah meningkatnya populisme merupakan sebagian konsekuensi dari perkembangan geopolitik saat ini?

Dino Patti Djalal: Kita memang akan melihat fenomena de-globalisasi untuk ke depannya. Dikarenakan berbagai hal, de-globalisasi bahkan sudah terjadi sebelum masuknya COVID-19. De-globalisasi juga akan dipicu oleh populisme baru. Dewasa ini, populisme baru dapat dilihat dari banyaknya negara yang menerapkan strategi “me-first”, seperti Donald Trump yang menerapkan America first. COVID-19 kemudian mendorong negara-negara lain untuk menerapkan strategi me-first tersebut. Sebagi contoh, terdapat negara yang membuat peralatan medis sendiri untuk disebarkan kepada masyarakatnya, bukan di ekspor ke negara lain.

Oleh karena itu, perlu diingat bahwa nasionalisme dan populisme tidak hanya berkembang di Amerika Serikat, tetapi di Tiongkok juga bisa ada. Saya menyukai ketika Xi Jinping berbicara tentang the right things, seperti common shared destiny dan pembagian vaksin ke seluruh dunia apabila Tiongkok berhasil menemukannya. Sementara itu, Amerika Serikat belum berbicara demikian. Bahkan, Donald Trump seringkali melontarkan ucapan yang terkesan ngawur dan banyak mendapatkan kritik dari masyarakat Amerika Serikat.

Community of Shared/Common Destiny

Joko Susanto: Pak Dino sempat menyinggung tentang community of shared destiny. Menurut Pak Rene, apakah common destiny atau community of shared destiny ini dapat dipahami secara optimis dalam kaitannya dengan Tiongkok?

Rene L. Pattiradjawane: Community of shared destiny atau common destiny memang digunakan untuk menentukan nasib bersama. Namun saat ini, agak sulit untuk merumuskannya dalam konteks yang optimis. Sebagai contoh, pada awal pandemi Indonesia membutuhkan test kit, namun harganya tidak keruan. Jika seperti ini, common destiny-nya ada di mana? Indonesia akan membeli seluruh peralatan yang dijual oleh Tiongkok. Permasalahannya, Tiongkok tidak dapat menentukan bahwa destiny juga menyangkut nasib masyarakat Indonesia.

Pada awalnya, Indonesia membeli ventilator dari Tiongkok seharga 9 ribu dollar AS. Namun tiba-tiba, ventilator tersebut dijual dengan harga 64 ribu dollar AS. Bagaimana hal ini dapat disebut sebagai common destiny?  Permasalahan serupa terjadi pada rapid test kit yang ditawarkan Tiongkok untuk mengetahui sejauh mana persebaran COVID-19 dalam masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi krusial untuk menentukan makna kembali dari common destiny.

Dino Patti Djalal: Berdasarkan pengalaman saya di lapangan, common destiny sama dengan perkataan Bung Karno di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Gerakan Non-Blok (GNB), Kongres Amerika Serikat, dan sebagainya. Beliau mengatakan bahwa kita sebagai sebuah bangsa, janganlah selalu bertempur satu sama lain, namun kita bisa membangun masa depan melalui kerja sama. Hal ini sesuai dengan perkataan yang disampaikan oleh Xi Jinping.

Banyak orang yang mengatakan bahwa persoalan tersebut terlalu konsepsual, namun padahal ada praktisnya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Indonesia tidak melihat Tiongkok, Korea, atau Rusia sebagai bagian dari masa depan dan kemajuannya. Community destiny merupakan sebuah konsep yang sejak lama sudah digaungkan oleh Indonesia. Indonesia telah masuk sebagai top five dalam perekonomian dunia, dan bahkan diprediksi akan menjadi top four. Masa depan dan kekuatan Indonesia akan banyak ditopang oleh kemampuannya untuk bersinergi dengan negara-negara lain, terutama Amerika Serikat, Jepang, Korea Rusia, ASEAN, India, dan sebagainya.

Selain itu, Indonesia juga pernah marah kepada Tiongkok ketika berada di bawah kepemimpinan Mao Zedong. Hal ini dipicu oleh perkataan Mao Zedong yang pernah mengajak untuk melakukan perang nuklir. Oleh karena itu, ketika saat ini Tiongkok berbicara tentang the right things, maka harus disambut dengan baik, meskipun hanya terkesan normatif. Begitu pula dengan Amerika Serikat yang harus didukung apabila berbicara tentang the right things.

Joko Susanto: Pak Rene, apakah ada yang mau direspon?

Rene L. Pattiradjawane: Saya setuju dengan perkataan yang disampaikan oleh Pak Dino. Baik dengan Tiongkok maupun Amerika Serikat, Indonesia memang pernah mengalami pengalaman yang tidak baik. Akan tetapi, kita harus memahami bagaimana pengimplementasian dari common destiny. Dalam konteks pandemi saat ini, bagaimana kita harus menerima pandangan terkait common destiny? Saya setuju ketika harus mendukung perkataan tentang the right things karena teknologi, tenaga kedokteran, dan peralatan medis memang sangat dibutuhkan banyak negara. Permasalahannya, Indonesia kesulitan untuk berbicara soal pandemi dan mencari solusi bersama dengan ASEAN. Apalagi jika harus melakukan kerja sama secara lebih intensif, maka akan menjadi lebih sulit. Akan tetapi, kerja sama tersebut tetap harus diwujudkan.

Populisme memang ikut menentukan jalannya pemerintahan. Hal ini terjadi di Amerika Serikat yang ditandai dengan banyaknya kerusuhan massa. Selain menghadapi pandemi, Amerika Serikat turut menghadapi permasalahan rasialisme. Dalam melihat persoalan tersebut, Indonesia harus mengambil posisi seperti apa? Indonesia tentunya harus duduk bersama dengan Amerika Serikat dan Tiongkok untuk mencari solusi, utamanya solusi mengenai pandemi. Indonesia perlu menentukan tindakan untuk dilakukan bersama guna mencapai apa yang disebut sebagai common destiny.

Skenario untuk Indonesia

Joko Susanto: Baik, saya rasa sudah cukup jelas. Berikut ini ada beberapa pertanyaan tentang bagaimana sikap yang harus diambil oleh Indonesia. Namun sebelum itu, ada satu persoalan yang harus diselesaikan terlebih dahulu mengenai konsekuensinya. Ada pertanyaan dari Janet Gabson sebagai lulusan Universitas Pertahanan, partisipan yang mengikutu EIP Forum melalui Zoom. Pertanyaannya ialah apa kira-kira worst case scenario dari situasi yang memanas saat ini? Menurut Pak Dino bagaimana? Apakah ada worst case scenario yang belum disebutkan?

Dino Patti Djalal: Ada beberapa worst case scenario yang perlu digarisbawahi. Pertama, COVID-19 menjadi semakin tidak terkendali dan menciptakan resesi, bahkan depresi dunia. Hal ini mungkin terjadi karena belum terlihat kapan COVID-19 akan berakhir. Apabila ditimpa lagi oleh proteksionisme, trade war, geopolitical proxy war, atau rebellion yang tidak terkendali, maka akan menjadi hancur. Saya menyebutnya sebagai “the perfect storm”, yang mana semuanya mengarah pada krisis yang luar biasa dan mengguncang.

Oleh karena itu, tugas bagi seluruh pemimpin dunia, termasuk Donald Trump, Xi Jinping, Shinzo Abe, Antonio Guterres, dan semuanya, ialah memastikan kepemimpinannya agar COVID-19 tidak ditimpa oleh berbagai hal yang semakin memperburuk keadaan. Terlebih lagi, agenda dunia masih banyak, seperti climate change, slavery, konflik bersenjata, terorisme, serta masih banyak lagi agenda yang memerlukan leadership dan wisdom dari para pemimpin dunia.

Joko Susanto: Baik, terima kasih. Masih terdapat satu gelombang pertanyaan yang perlu dijawab mengenai bagaimana sikap yang harus diambil oleh Indonesia? Pertanyaan ini dilontarkan oleh Agus Salim dari UPN dan Tiffara Indah yang mengikuti melalui Zoom, serta Asep Setiawan dari Universitas Muhammadiyah Jakarta yang mengikuti melalui YouTube. Pertanyaan pertama berkaitan tentang bagaimana relevansi antara calibrated respon, sesuai dengan yang disampaikan oleh Pak Dino, dan politik bebas-aktif Indonesia atau mendayung di antara dua karang? Bagaimana mengaitkannya?

Dino Patti Djalal: Ketika saya masih berada di pemerintahan, Indonesia mengusung satu konsep, yakni zero enemy and thousand friends. Konsep ini banyak diejek karena dianggap terlalu naif. Akan tetapi, pemerintahan sekarang pun mengakui bahwa tindakan Indonesia untuk tidak mencari musuh dan tidak dimusuhi oleh negara lain merupakan strategic luxury yang luar biasa. It is actually a strategic position. Saya menginginkan pemerintah untuk menjaga posisi zero enemy tersebut, sehingga Indonesia dapat berkiprah dimana pun.

Poin berikutnya mungkin lebih penting, yang mana Indonesia menghadapi situasi dunia yang membutuhkan adanya keberanian dalam mengambil sikap. Saat ini, kemampuan untuk take a stance sangat diperlukan dalam diplomasi Indonesia. Saya berharap bahwa Presiden Jokowi dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dapat terus memegang prinsip bebas-aktif, namun terutama dapat memajukan how to take a stance dalam situasi tarik-menarik  atau rivalitas politik saat ini.

Joko Susanto: Terima kasih, Pak Dino. Ini ada sedikit tambahan dari Dyah Windyastuti, partisipan yang mengikuti EIP Forum melalui Zoom. Menurutnya, Amerika Serikat dan Tiongkok sama-sama negara non-demokratis, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump dianggap tidak demokratis. Sebagai negara demokratis, bagaimana Indonesia harus bersikap? Selain dari pernyataan Pak Dino, apakah ada tambahan dari Pak Rene?

Rene L. Pattiradjawane: Pandemi ini kan tidak melihat persoalan demokratis dan non-demokratis. Permasalahannya tidak berada di sana. Akan tetapi, permasalahan yang sekarang muncul ialah kita kehilangan konteks kemanusiaan, dan Indonesia memiliki kemampuan untuk berbicara mengenai konteks kemanusiaan dalam pelaksanaan politik luar negerinya. Konteks kemanusiaan Indonesia tidak memandang persoalan demokrasi, non-demokrasi, sosialisme, atau komunisme.

Pelaksanaan kerja sama seharusnya menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk mengurangi kerentanan domestik akibat tindakan unilateral berbagai negara yang menutup ekspor dan impornya. Negara seperti Indonesia sangat terancam karena impor dan ekspornya cenderung menjadi sulit. Permasalahan semacam ini harus dicarikan solusi. Salah satu solusinya berada dalam konteks kemanusiaan, tidak hanya menyelamatkan masyarakat Indonesia, tetapi juga seluruh masyarakat dunia.

Beberapa Pertanyaan Trivia

Joko Susanto: Baik, terima kasih. Sebelum saya memberikan kesempatan bagi setiap pembicara untuk menyampaikan closing remarks, saya ingin menyampaikan trivia terlebih dahulu. Pertama, saya akan mulai dari Pak Dino. Dalam pilihan prolog atau monolog, ketegangan terkait COVID-19 kira-kira lebih condong ke arah mana? Apakah prolog, prelude dari Perang Dingin yang lebih besar, atau monolog, untuk mengalihkan perhatian politik domestik?

Dino Patti Djalal: Human race kan selalu terpecah-belah. Harus ada alien dari Mars untuk menyatukan dunia dalam melawan alien tersebut. Tetapi menurut saya, kita tidak memerlukan alien, cukup COVID-19 karena hampir seluruh masyarakat dunia terpapar oleh pandemi tersebut. Jika dengan adanya COVID-19 masyarakat terus bertengkar dan tidak bisa bekerja sama, maka saya akan menangis. Situasi saat ini mengharuskan seluruh masyarakat dunia untuk bersatu. Seperti halnya peristiwa Tsunami Aceh tahun 2004 yang berhasil menyatukan seluruh negara. Amerika Serikat, Tiongkok, Australia, Singapura, Meksiko, serta banyak negara lain melakukan kerja sama dan melupakan rivalitas di antara mereka. Mengapa hal ini tidak dapat terjadi sekarang? I don’t know.

Joko Susanto: Jika melihat penjelasan Pak Dino dari awal, disampaikan bahwa Amerika Serikat memiliki banyak permasalahan, mulai dari pengangguran yang meningkat hingga persoalan George Floyd. Boleh tidak kita simpulkan bahwa Pak Dino lebih condong ke arah monolog?

Dino Patti Djalal: Jangan seperti itu.

Joko Susanto: Kalau Pak Rene, lebih condong ke arah prolog atau monolog?

Rene L. Pattiradjawane: Dua-duanya.

Joko Susanto: Baik. Pertanyaan kedua ialah tentang hot peace dan cold war. Kalau Pak Dino lebih condong ke hot peace. Menurut Pak Rene, situasi saat ini lebih ke hot peace atau cold war?

Rene L. Pattiradjawane: Tidak dua-duanya. Yang ada harusnya multilateral co-existence, yakni kelompok-kelompok yang saling hidup berdampingan.

Joko Susanto: Kemudian pertanyaan yang ketiga, tadi Pak Dino sudah menjelaskan tentang historical milestone. Jika boleh memilih, historical milestone tersebut lebih dekat ke leadership test atau game changer, Pak?

Dino Patti Djalal: Menurut saya, lebih ke game changer.

Joko Susanto: Berarti COVID-19 tidak hanya menjadi ujian bagi kepemimpinan Amerika Serikat, tetapi juga meletakkan pondasi bagi perubahan yang lebih besar?

Dino Patti Djalal: Saya berharap bahwa COVID-19 dapat membantu untuk membentuk tatanan dunia baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Joko Susanto: Terima kasih atas jawabannya, Pak Dino. Kalau menurut Pak Rene, situasi menegangkan di sekitar COVID-19 saat ini lebih dekat ke arah leadership test atau game changer?

Rene L. Pattiradjawane: Situasi ini merupakan game changer bagi seluruh negara. Baik Amerika Serikat, Tiongkok, Indonesia, maupun negara lainnya harus melihat situasi saat ini sebagai perubahan menuju kerja sama dalam konteks kemanusiaan.

Joko Susanto: Berikutnya, tadi Pak Dino sempat membahas tentang akomodasi stratejik. Apakah akomodasi stratejik merupakan suatu hal yang desirable, diinginkan, atau sudah ada sekarang? Dalam situasi saat ini, apakah lebih condong ke akomodasi sratejik atau competition struggle?

Dino Patti Djalal: Kompetisi tentunya akan selalu berlangsung. Tetapi saya berharap akan tercapai mutual strategic accommodation, mengingat bahwa situasi dunia akan selalu berubah. Sebagai contoh, Indonesia pernah menyuarakan Ganyang Malaysia. Namun saat ini, Indonesia dan Malaysia telah menjadi satu keluarga. Indonesia juga pernah memusuhi Australia saat terjadi peristiwa Timor Timur, namun sekarang Australia telah menjadi strategic partner bagi Indonesia. Hubungan antar-negara bisa berubah, termasuk hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok di suatu hari nanti.

Joko Susanto: Kalau menurut Pak Rene, situasi saat ini lebih dekat ke akomodasi stratejik atau competition struggle?

Rene L. Pattiradjawane: Menurut saya akomodasi stratejik. Dalam situasi pandemi saat ini, memang harus dicarikan solusi stratejik secara bersama-sama, tidak lagi sendiri-sendiri.

Joko Susanto: Tetapi itu masih normatif, Pak. Kalau real-nya bagaimana? Lebih mengarah ke mana?

Rene L. Pattiradjawane: Kalau secara real, maka harus dibangun secara bersama.

Joko Susanto: Baik. Pertanyaan terakhir, dalam situasi yang memanas antara Amerika Serikat dan Tiongkok terkait COVID-19, apakah menjadi peluang atau tantangan bagi Indonesia? Menurut Pak Dino bagaimana?

Dino Patti Djalal: Kalau menurut saya, seharusnya lebih ke peluang, yakni peluang untuk melakukan kajian kembali dan riset mengenai dunia saat ini. Saya juga banyak melihat berbagai hal dari perspektif-perspektif baru, seperti keluarga, pekerjaan, keamanan, kesehatan, hukum, dan lain sebagainya. Ini menjadi peluang bagi kita untuk membenahi diri.

Joko Susanto: Kalau menurut Pak Rene, apakah lebih ke peluang atau tantangan?

Rene L. Pattiradjawane: Lebih ke peluang. Dalam situasi krisis, pasti terdapat peluang.

Uraian Penutup

Joko Susanto: Baik, terima kasih. Selanjutnya saya akan memberikan kesempatan kepada kedua pembicara untuk menyampaikan closing remarks. Saya mulai dari Pak Rene terlebih dahulu. Apa kesimpulan akhir atau pesan yang perlu didengarkan oleh para audiens?

Rene L. Pattiradjawane: Pertama, kita perlu melakukan riset dan kolaborasi bersama mengenai kepentingan-kepentingan stratejik Indonesia, baik di ranah regional maupun global. Kontribusi riset tentang permasalahan hubungan internasional menjadi krusial untuk menjadi pegangan saat ini. Kedua, kita perlu mencari mekanisme untuk berhubungan satu sama lain, termasuk berhubungan dengan orang lain di beberapa negara. Hal ini dapat dilakukan melalui pelaksanaan diskusi seperti sekarang.

Joko Susanto: Kalau Pak Dino, apa kalimat penutup atau pesan yang dapat disampaikan kepada audiens?

Dino Patti Djalal: Saya menyampaikan mohon maaf lahir dan batin. Saya juga menghimbau untuk memakai masker, melakukan pembatasan secara sosial, menjaga imunitas tubuh, serta stay healthy and safe.

Joko Susanto: Terima kasih. Memang Pak Dino selalu memberikan banyak kejutan. Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Dino yang telah meluangkan waktu memberikan wawasan dan pemikiran-pemikiran yang cemerlang di forum ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Rene karena telah memberikan banyak insight yang luar biasa.

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan sekali lagi bahwa meskipun tidak selalu berkaitan erat, kita memiliki sejarah bahwa pandemi dan geopolitik memiliki keterkaitan. Keterkaitan ini dapat dilihat pada seratus tahun yang lalu. Hal tersebut menjadi tugas bagi kita untuk memikirkan perkembangan yang terjadi sekarang, beserta konsekuensi yang dihasilkan. Kita telah melihat adanya hubungan yang memanas antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang turut dipicu oleh COVID-19, sehingga menjadi tugas bagi kita semua untuk memikirkan konsekuensi geopolitik yang ditimbulkan.

Terakhir, hal yang menarik ialah kedua pembicara sepakat bahwa apa pun konsekuensi dan persoalan yang muncul dalam kaitannya, terdapat sebuah peluang bagi Indonesia. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia memiliki kewajiban untuk memikirkan bagaimana cara untuk keluar dari permasalahan ini dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Sekali lagi, saya menyampaikan terima kasih bagi para audiens yang mengikuti diskusi melalui Zoom dan YouTube. Terima kasih sudah hadir dalam EIP Forum yang kedua. Saya, Joko Susanto dari EIP, mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa di EIP Forum berikutnya. Selamat malam.


DISCLAIMER: Featured Transcript adalah transkrip podcast yang sedapat mungkin mendokumentasikan secara tertulis perbincangan yang sebelumnya berlangsung secara lisan. Untuk membuatnya lebih mudah dipahami secara tertulis, beberapa keterangan penajam atau penyerta ditambahkan oleh narasumber maupun penyunting dengan tanpa mengubah inti kalimat yang ada. Silakan mendengarkan audio atau klik tautan Youtube terlampir untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentangnya.

Headline Image: Corona Wars by the Spectator

Written by
EIP Forum

EIP Forum adalah seri seminar, konsultasi dan diskusi ahli terkait tantangan dan peluang kondisi emerging Indonesia. Tujuannya mendorong pengembangan wawasan dan pemahaman melalui pertukaran pandangan dan keterlibatan konstruktif pemangku kepentingan. Kegiatan itu dilakukan secara periodik maupun insidental, secara luring maupun daring melalui pendapa digital Aula Indonesia Udaya. Atas seijin narasumber, bagian terpilih dari rekaman dan transkrip diskusi nantinya dipublikasikan dalam seksi podcast di portal EmergingIndonesia.com.

View all articles
Written by EIP Forum

Kontak

Ikuti Kami

Dapatkan update berita, ulasan dan kegiatan kami dengan cara follow akun sosial media kami berikut ini.