Rusia, Kontranarasi dan Pandemi

Dari sekian banyak respon negara emerging terkait Pandemi Covid-19, respon Rusia terbilang unik. Alih-alih fokus pada memperkuat kesiapan dan kemampuan tanggap operasional, Rusia malah sibuk bermain kontranarasi. Nampaknya respon Rusia terkait pandemi masih belum sepenuhnya lepas dari aspirasi kepentingannya dalam politik re-emergence.

Pandemi Global dan Rusia

Seperti halnya negara udaya lainnya, Rusia adalah negara dengan penyebaran Covid-19 terparah. Seperti dilansir oleh The Moscow Times, 8 Mei 2020, Rusia adalah negara dengan penambahan kasus per hari terparah kedua di dunia. Tercatat, tanggal 9 Mei 2020, total ada 198.876 kasus dengan penambahan sehari sebesar 10.817 kasus.

Tidak hanya memberi tekanan secara epidemi, kondisi pandemi ini telah pula memasuki wilayah politik. Ia menjadi salah satu faktor yang mengakselerasi instabilitas politik di Rusia. Referendum konstitusi pada 22 April yang seharusnya melanggengkan Putin berkuasa hingga 2036 terpaksa ditunda. Dampaknya, popularitas Putin makin merosot dan mendorong menguatnya gelombang kritik terhadap kepemimpinannya selama pandemi.

Yang menarik, cara Rusia merespons pandemi akhir akhir ini semakin mengerucut kepada satu hal, yakni menggunakan media-media massa utama mereka seperti RT dan Sputnik untuk mengetengahkan narasi alternatif. Salah satunya adalah bahwa bahaya Covid-19 ini tidak sebesar yang diberitakan media pada umumnya.

Video unggahan RT yang berjudul “Could Covid-19 be milder than we thought?” adalah contohnya.[1] Yang menonjol di situ adalah pesan bahwa WHO dan banyak negara telah melakukan kesalahan dalam metode penghitungan korban Covid-19. Metode yang benar adalah yang dilakukan Rusia, yang tidak menghitung korban meninggal yang memiliki penyakit komorbit atau penyakit penyerta. Dokter dan ahli rumah sakit pemerintah dikerahkan untuk memperkuat klaim ini.[2]

Rusia dan Strategi Kontranarasi

Bukan kali pertama Rusia melakukan ini. Kecenderungan untuk bermain kontra narasi ini dijumpai dalam banyak respon Rusia kontemporer. Salah satunya terkait Perang Dunia II. Belakangan Rusia sibuk mengganti narasi Barat sebagai pemenang perang dengan narasi Uni Soviet sebagai pembebas Eropa.[3] Begitu juga dengan penyebabnya: bukan Pakta Molotov-Ribbentrop antara Nazi Jerman-Uni Soviet seperti yang dituduhkan negara-negara Eropa, tetapi kesalahan Polandia yang memancing invasi Jerman dan justru menyetujui pembantaian Yahudi di wilayahnya.[4]

Rusia menerima banyak kecaman karena ini. Polandia, Estonia dan Latvia di antara yang paling keras. Parlemen dari tiga negara Baltik bahkan menyebutnya sebagai “false history”.[5] Tak ketinggalan juga Komisi Uni Eropa.[6] Tetapi Rusia bergeming dan meneruskan permainan anak nakal dan desepsi stratejiknya. Jejak-jejak kasar yang mentautkannya dalam jatuhnya pesawat MH-17 di Ukraina Timur, intervensi pemilu AS 2016, skandal doping Olimpiade Sochi 2014, hingga beberapa pembunuhan beracun setelahnya, berhubungan dengan kebiasaan itu.

Kontranarasi dan Politik Re-emergence

Ada beberapa alasan mengapa Rusia melakukan “strategic deception” ini, bahkan dalam isu penanganan penyakit sekalipun. Salah satunya adalah upayanya untuk menantang hegemoni sistemik negara adidaya. Dalam kepercayaan publik Rusia, muslihat stratejik adalah cara populer untuk kembali mendapatkan posisi unggul di tengah dominasi kekuatan adidaya.

Rusia adalah tanah subur bagi strategi maskirovka atau strategi desepsi dan misrepresentasi. Penelitian Morozov, Kurowska, dan Reshetnikov bahkan menunjukkan bahwa publik di Rusia bisa menerima upaya muslihat sebagai bentuk perwujudan sosok trickster –atau penipu.[7] Sosok ini begitu populer di masyarakat Rusia karena menjadi simbol perlawanan terhadap penguasa, terhadap kelas borjuis, dan terhadap penindas.

Dukungan publik terhadap posisi “penipu” yang cerdik ini digunakan elit pemerintahan di Rusia sebagai basis legitimasi kebijakan muslihat stratejik mereka. Sebagaimana diketahui, Rusia saat ini sedang bekerja keras untuk mengembalikan posisi mereka yang merosot sejak Uni Soviet runtuh. Hampir sebagian besar kebijakan luar negerinya dikembangkan dalam kerangka politik re-emergence itu.  

Untuk ini Barat –AS dan Eropa– tidak cukup digambarkan sebagai tuan tanah yang opresif dan sebagai bangsawan kaya yang menindas. Rusia lebih lanjut juga perlu dihadirkan sebagai penentang yang cerdik. Dengan mengidentifikasi diri sebagai “penentang cerdik”, Rusia lebih mudah diterima negara kecil dan negara berkembang yang merindukan peran-peran serupa. Seperti kisah Robin Hood di Inggris atau si Kancil Pencuri Mentimun di Indonesia, kontranarasi dihadirkan untuk memperkokoh citra si penentang cerdik ini.  

Tetapi, persoalannya menjadi lain jika strategi kontranarasi ini dipakai untuk merespon situasi pandemi. Upayanya bermain kontranarasi di tengah ancaman nyata Covid-19 bisa sangat berbahaya. Di tengah kondisi kacau dan anarkis, pertempuran narasi hanya akan menambah daftar kebingungan massa. Rusia nampaknya perlu menemukan momen dan timing yang lebih baik jika ingin melanjutkan permainan kontranarasi dan politik re-emergence. Situasi pandemi jelas bukan moment dan timing yang tepat untuk ini. (RADD)


Gambar: World Leaders Greet Vladimir Putin by Washington Post

Written by
Radityo Dharmaputra
View all articles
Written by Radityo Dharmaputra

Kontak

Ikuti Kami

Dapatkan update berita, ulasan dan kegiatan kami dengan cara follow akun sosial media kami berikut ini.